Andri Sanityoso Sulaiman, Irsan Hasan, Cosmas Rinaldi Adithya Lesmana, Juferdy Kurniawan, Gita Aprilicia et al.
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia · Department of Internal Medicine, Faculty of Medicine Universitas Indonesia
Introduction. Direct-acting antivirals (DAAs) has been developed for treatment hepatitis C virus (HCV). Therapy of HCV using
DAA has shown high sustained virologic response (SVR) and shortening duration of therapy. Sofosbuvir-ledipasvir (SOF/LDV)
is fixed dose combination tablet of DAAs which recommended for genotype 1, 4, 5, and 6 infected patients. In developing
countries, SOF/LDV still can be used as cost-effective regimen in all genotype compared with sofosbuvir-daclatasvir (SOF/
DCV). This study aimed to evaluate the efficacy of combination sofosbuvir-ledipasvir in all genotypes of HCV patients
compared with available DAA in Indonesia (sofosbuvir- daclatasvir).
Methods. A retrospective study was conducted among patients who received HCV therapy in Klinik Hati and Cipto
Mangunkusumo Hospital during January until December 2017. Demographic data, baseline characteristics virus, and
baseline characteristics laboratory were collected from medical record. Quantitative polymerase chain reaction (PCR) for Jurnal Penyakit Dalam IndonesiaJurnal Penyakit Dalam Indonesia
Volume 10 Issue 4 Article 3
12-31-2023
Kombinasi Sofosbuvir-Ledipasvir dan Sofosbuvir- DaclatasvirKombinasi Sofosbuvir-Ledipasvir dan Sofosbuvir- Daclatasvir
pada Pengobatan Pasien Hepatitis C di Indonesiapada Pengobatan Pasien Hepatitis C di Indonesia
Andri Sanityoso Sulaiman DrHepatobiliary Division, Medical Staff Group of Internal Medicine, Faculty of Medicine Universitas
Indonesia, Cipto Mangunkusumo National General Hospital, Jakarta, Indonesia., andri_sani@yahoo.com
Irsan Hasan DrHepatobiliary Division, Medical Staff Group of Internal Medicine, Faculty of Medicine Universitas
Indonesia, Cipto Mangunkusumo National General Hospital, Jakarta, Indonesia., irsan_h@yahoo.com
Cosmas Rinaldi Adithya Lesmana DrHepatobiliary Division, Medical Staff Group of Internal Medicine, Faculty of Medicine Universitas
Indonesia, Cipto Mangunkusumo National General Hospital, Jakarta, Indonesia.,
medicaldr2001id@yahoo.com
Juferdy Kurniawan DrHepatobiliary Division, Medical Staff Group of Internal Medicine, Faculty of Medicine Universitas
Indonesia, Cipto Mangunkusumo National General Hospital, Jakarta, Indonesia., juferdy.k@gmail.com
Gita ApriliciaHepatobiliary Division, Medical Staff Group of Internal Medicine, Faculty of Medicine Universitas
Indonesia, Cipto Mangunkusumo National General Hospital, Jakarta, Indonesia., gita.2a3@gmail.com
See next page for additional authors
Follow this and additional works at: https://scholarhub.ui.ac.id/jpdi
Part of the Internal Medicine Commons, and the Virus Diseases Commons
Recommended CitationRecommended Citation
Sulaiman, Andri Sanityoso Dr; Hasan, Irsan Dr; Lesmana, Cosmas Rinaldi Adithya Dr; Kurniawan, Juferdy
Dr; Aprilicia, Gita; Nugroho, Yayah Dr; Wahyuni, Nunuk Tri Dr; and Sulaiman, Budiman Sujatmika (2023)
"Kombinasi Sofosbuvir-Ledipasvir dan Sofosbuvir- Daclatasvir pada Pengobatan Pasien Hepatitis C di
Indonesia,"
Jurnal Penyakit Dalam Indonesia: Vol. 10: Iss. 4, Article 3.
DOI: 10.7454/jpdi.v10i4.1501
Available at: https://scholarhub.ui.ac.id/jpdi/vol10/iss4/3
This Original Article is brought to you for free and open access by the Faculty of Medicine at UI Scholars Hub. It has
been accepted for inclusion in Jurnal Penyakit Dalam Indonesia by an authorized editor of UI Scholars Hub.
Kombinasi Sofosbuvir-Ledipasvir dan Sofosbuvir- Daclatasvir pada PengobatanKombinasi Sofosbuvir-Ledipasvir dan Sofosbuvir- Daclatasvir pada Pengobatan
Pasien Hepatitis C di IndonesiaPasien Hepatitis C di Indonesia
AuthorsAuthors
Andri Sanityoso Sulaiman Dr, Irsan Hasan Dr, Cosmas Rinaldi Adithya Lesmana Dr, Juferdy Kurniawan Dr,
Gita Aprilicia, Yayah Nugroho Dr, Nunuk Tri Wahyuni Dr, and Budiman Sujatmika Sulaiman
This original article is available in Jurnal Penyakit Dalam Indonesia: https://scholarhub.ui.ac.id/jpdi/vol10/iss4/3
LAPORAN PENELITIAN183Jurnal Penyakit Dalam Indonesia | V o l . 10, No. 4 | Desember 2 0 2 3 |
Kombinasi Sofosbuvir-Ledipasvir dan Sofosbuvir-
Daclatasvir pada Pengobatan Pasien Hepatitis C di
Indonesia
Combination of Sofosbuvir-Ledipasvir and Sofosbuvir-
Daclatasvir for Treatment HCV Patients in Indonesia
Andri Sanityoso Sulaiman1,2, Irsan Hasan1, Cosmas Rinaldi Adithya Lesmana1, Juferdy Kurniawan1, Gita
Aprilicia1, Yayah Nugroho2, Nunuk Tri Wahyuni2, Budiman Sujatmika Sulaiman2
1Divisi Hepatobilier, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo, Jakarta
2Klinik Hati Prof Ali Sulaiman, Jakarta
Korespondensi:
Andri Sanityoso Sulaiman. Divisi Hepatobilier, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo, Jakarta, Indonesia. Email: andri_sani@yahoo.com
ABSTRAK
Pendahuluan. Direct-acting antivirals (DAAs) telah dikembangkan untuk pengobatan virus hepatitis C (VHC). Terapi
hepatitis C dengan menggunakan DAA telah menunjukkan respons virologis berkelanjutan yang tinggi (sustained virologic
response/SVR) dan durasi terapi yang lebih singkat. Sofosbuvir-ledipasvir (SOF/LDV) adalah tablet kombinasi DAA dengan
dosis tetap yang direkomendasikan untuk pasien yang terinfeksi genotipe 1, 4, 5, dan 6. Di negara berkembang, SOF/LDV
masih dapat digunakan sebagai obat paduan dengan biaya yang lebih ekonomis untuk semua genotipe dibandingkan
dengan sofosbuvir-daclatasvir (SOF/DCV). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efikasi kombinasi sofosbuvir-
ledipasvir pada semua genotipe pasien hepatitis C dibandingkan dengan DAA yang tersedia di Indonesia (sofosbuvir-
daclatasvir).
Metode. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif terhadap pasien yang mendapatkan terapi hepatitis C di Klinik
Hati dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada periode Januari hingga Desember 2017. Data demografi, karakteristik
awal virus, dan karakteristik awal laboratorium dikumpulkan dari rekam medis. Polymerase chain reaction (PCR) kuantitatif
untuk muatan virus hepatitis C dinilai pada titik akhir penelitian. Efikasi SOF/LDV dan SOF/DCV dilakukan dengan respons
virologis yang berkelanjutan pada minggu ke-12 (SVR-12).
Hasil. Sebanyak 214 pasien hepatitis C diikutsertakan dalam penelitian ini. Sebanyak 69 pasien diobati dengan SOF/LDV,
sedangkan 145 pasien diobati dengan SOF/DCV. Pada kelompok SOF/LDV, sebanyak 20 (29%) pasien memiliki pengalaman
terapi, 9 (13%) menerima terapi 24 minggu, dan 26 (37,7%) pasien memiliki sirosis. Pada kelompok SOF/DCV, 24 (16,6%)
pasien memiliki pengalaman terapi, 38 (26,2%) menerima terapi 24 minggu, dan 41 (28,3%) pasien memiliki sirosis. Pasien
hepatitis C didominasi oleh genotipe 1 pada kedua kelompok SOF/LDV dan SOF/DCV (63,7 vs. 67,6%). Virus hepatitis C tidak
terdeteksi pada seluruh pasien setelah terapi kombinasi SOF/LDV, dengan angka SVR-12 adalah 69/69 (100%). Sementara
itu, angka SVR-12 mencapai 142/145 (97,9%) pada kelompok SOF/DCV.
Kesimpulan. SOF/LDV efektif pada semua genotipe pasien hepatitis C dan biaya kombinasi dosis tunggal SOF/LDV lebih
terjangkau bagi pasien di negara berkembang dibandingkan dengan rejimen SOF/DCV.
Kata Kunci: Direct-acting antivirals (DAAs), sofosbuvir-daclatasvir (SOF/DCV), sofosbuvir-ledipasvir (SOF/LDV), SVR-12, virus
hepatitis C
ABSTRACT
Introduction. Direct-acting antivirals (DAAs) has been developed for treatment hepatitis C virus (HCV). Therapy of HCV using
DAA has shown high sustained virologic response (SVR) and shortening duration of therapy. Sofosbuvir-ledipasvir (SOF/LDV)
is fixed dose combination tablet of DAAs which recommended for genotype 1, 4, 5, and 6 infected patients. In developing
countries, SOF/LDV still can be used as cost-effective regimen in all genotype compared with sofosbuvir-daclatasvir (SOF/
DCV). This study aimed to evaluate the efficacy of combination sofosbuvir-ledipasvir in all genotypes of HCV patients
compared with available DAA in Indonesia (sofosbuvir- daclatasvir).
Methods. A retrospective study was conducted among patients who received HCV therapy in Klinik Hati and Cipto
Mangunkusumo Hospital during January until December 2017. Demographic data, baseline characteristics virus, and
baseline characteristics laboratory were collected from medical record. Quantitative polymerase chain reaction (PCR) for
184| Jurnal Penyakit Dalam Indonesia | V o l . 10, No. 4 | Desember 2 0 2 3
Andri S. Sulaiman, Irsan Hasan, C.R.A Lesmana, Juferdy Kurniawan, Gita Aprilicia,Yayah Nugroho, Nunuk Tri Wahyuni, Budiman S. Sulaiman
HCV RNA were assessed at the end point of study. The efficacy of SOF/LDV and SOF/DCV were carried out by sustained
virological response at 12 weeks (SVR-12).
Results. A total of 214 HCV patients were include in this study. Sixty-nine patients treated with SOF/LDV, whereas 145 patients
treated with SOF/DCV. In group of SOF/LDV, 20 (29%) patients had an experience therapy, 9 (13%) received 24-week
therapy, 26 (37.7%) patients observed with cirrhosis. In group of SOF/DCV, 24 (16.6%) patients had an experience therapy,
38 (26.2%) received 24-week therapy, 41 (28.3%) patients observed with cirrhosis. The patients were dominated by HCV
genotype 1 in both of group SOF/LDV and SOF/DCV (63.7% vs. 67.6%). All patients had undetected HCV RNA virus after the
combination therapy of SOF/LDV, with the SVR-12 rate was 69 (100%) patients. Meanwhile, SVR-12 rate was achieved in 142
(97.9%) patients in group SOF/DCV.
Conclusion. SOF/LDV is effective in all genotype of HCV patients and the cost fix dose combination of SOF/LDV more
affordable to patients in developing countries compared with SOF/DCV regimen.
Keywords: Direct acting antiviral agents (DAAs), HCV, sofosbuvir-daclatasvir (SOF/DCV), sofosbuvir-ledipasvir (SOF/LDV),
SVR-12
PENDAHULUAN
Infeksi hepatitis C telah menjadi epidemi global.
Pada tahun 2015, World Health International (WHO)
memperkirakan bahwa 71 juta penduduk dunia terinfeksi
hepatitis C kronis.1 Total kematian terkait hepatitis C
mencapai 399.000 penduduk pada tahun 2018, yang
sebagian besar disebabkan oleh karsinoma hepatoseluler
dan sirosis akibat infeksi virus hepatitis C.2
Virus hepatitis C (VHC) ditandai dengan variabilitas
genetik yang beragam. Terdapat 7 genotipe dan lebih dari
67 subtipe VHC yang telah teridentifikasi di seluruh dunia.3
Genotipe yang paling banyak ditemukan di Indonesia
adalah genotipe 1, dengan prevalensi diperkirakan 62,7%,
diikuti oleh genotipe 2 (16,4%), genotipe 3 (13,0%), dan
sebagian kecil genotipe 4 (2,7%), genotipe 5 (0,9%), dan
genotipe 6 (1,3%).4 Genotipe 1 adalah genotipe yang paling
sulit diobati dengan obat paduan pegylated interferon/
ribavirin (Peg-IFN/RBV). Sebuah studi oleh Juniastuti5
di Indonesia melaporkan bahwa hanya 73,5% pasien
mencapai early virological response (EVR) dan sustained
virological response (SVR) setelah pengobatan dengan
Peg-IFN/RB. Sejak tahun 2016, direct acting antiviral agent
(DAA) diusulkan menjadi pengobatan standar baru untuk
pasien hepatitis C di Indonesia. Penemuan DAA telah
mengubah pengobatan hepatitis C dengan meningkatkan
sustained virologic response (SVR) dan memperpendek
durasi pengobatan.6 Pencapaian SVR setelah pengobatan
dengan DAA dikaitkan dengan berkurangnya risiko
penyakit hati dan komplikasinya, termasuk dekompensasi
sirosis, karsinoma hepatoseluler, dan kematian.7
Beberapa obat paduan kombinasi sofosbuvir (SOF)
telah menunjukkan efektivitas dan keamanan yang unggul
untuk mengobati infeksi VHC kronis. Secara khusus,
kombinasi SOF dengan inhibitor protein nonstruktural 5A
(NS5A), misalnya ledipasvir (LDV), daclatasvir (DCV), atau
velpatasvir (VEL) telah menunjukkan efektivitas tinggi
dengan tingkat SVR pada 12 minggu pasca pengobatan
mencapai 80-90%.8 Sebagian besar data tentang
efektivitas DAA pada pasien hepatitis C berasal dari negara
barat, hanya sedikit data yang diperoleh dari negara di
Asia, khususnya Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui efektivitas kombinasi Sofosbuvir-Ledipasvir
pada semua genotipe pasien hepatitis C dibandingkan
dengan DAA yang tersedia di Indonesia (sofosbuvir-
daclatasvir).
METODE
Semua pasien dewasa dengan hepatitis C positif
berusia di atas 18 tahun yang diobati dengan sofosbuvir
di Klinik Hati Prof Ali Sulaiman dan Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo pada periode Januari hingga Desember
2017 diikutsertakan dalam penelitian ini secara
retrospektif. Kriteria eksklusi adalah pasien dalam masa
kehamilan, pasien dengan keganasan, dan pasien dengan
adanya gangguan ginjal. Sumber data serial kasus SOF/
LDV hanya diperoleh dari Klinik Hati Prof Ali Sulaiman,
sedangkan data serial kasus SOF/DCV diperoleh dari
Klinik Hati Prof Ali Sulaiman dan Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo.
Pada kelompok pertama, pasien menerima
kombinasi SOF/LDV dengan dosis tetap tunggal secara
oral (90 mg ledipasvir dan 400 mg sofosbuvir). Pada
kelompok lain, pasien menerima SOF/DCV (60 mg
daclatasvir dan 400 mg sofosbuvir). Jika pasien memiliki
koinfeksi dengan human immunodeficiency virus (HIV),
pasien menerima penyesuaian dosis daclatasvir 90 mg.
Durasi pemberian DAA pada regimen SOF/DCV diberikan
selama 12 minggu atau 24 minggu tergantung pada
adanya sirosis hati. Sementara pada regimen SOF/LDV,
sebagian besar pasien diberikan terapi selama 12 minggu
dan ditambahkan menjadi 24 minggu pengobatan sesuai
dengan kesanggupan pembiayaan pasien.
Sebelum terapi, beberapa pemeriksaan klinis dan
laboratorium dilakukan. Viral load HCV RNA, genotipe,
riwayat terapi sebelumnya, ada tidaknya sirosis, riwayat
diabetes melitus, dan kekakuan hati dikumpulkan
185Jurnal Penyakit Dalam Indonesia | V o l . 10, No. 4 | Desember 2 0 2 3|
Kombinasi Sofosbuvir-Ledipasvir dan Sofosbuvir-Daclatasvir pada Pengobatan Pasien Hepatitis C di Indonesia
sebelum terapi. Efikasi utama SOF/LDV dan SOF/DCV
dilakukan dengan SVR-12 (tingkat SVR pada 12-minggu
paska pengobatan). SVR didefinisikan sebagai virus yang
tidak terdeteksi setelah dinilai dengan polymerase chain
reaction (PCR) kuantitatif untuk RNA HCV. Analisis statistik
dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 25. Data
dinyatakan sebagai rerata [simpang baku (SB)] atau median
(rentang) untuk data kontinu dan dinyatakan sebagai
proporsi n (%) untuk data kategorikal. Perbandingan
antarkelompok dinilai dengan uji t-test independent atau
uji Man-Whitney untuk data kontinu dan uji chi square
untuk data kategorik. Nilai p<0,05 dianggap signifikan
secara statistik. Penelitian ini telah disetujui oleh Komite
Etik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (no: 0068/
UN2.F1/ETIK/2018, nomor protokol: 17-12-1208)
HASIL
Sebanyak 214 pasien hepatitis C yang mendapat
terapi sofosbuvir diikutsertakan dalam penelitian ini.
Sebanyak 69 pasien menerima SOF/LDV dan 145 pasien
menerima SOF/DCV (Tabel 1). Pada kelompok SOF/LDV,
sebagian besar pasien dalam penelitian ini menerima
terapi selama 12 minggu (87%), sementara sisanya
menerima terapi kombinasi selama 24 minggu. Lebih
dari 1/3 dari total pasien (37,7%) didiagnosis sirosis,
sedangkan median kekakuan hati pada subjek penelitian
ini adalah 11,80 kPa (3,60 - 49,70 kPa). Sebagian besar
subjek tidak memiliki riwayat diabetes melitus (DM),
hanya 6 pasien (8,7%) yang memiliki riwayat DM. Koinfeksi
HIV tercatat pada 1 pasien (1,4%). Pada kelompok SOF/
DCV, pasien yang menerima terapi selama 12 minggu
lebih rendah dibandingkan kelompok SOF/LDV (masing-
masing 73,8% vs. 87%) dan pada sirosis hati lebih rendah
dibandingkan kelompok SOF/LDV (masing-masing 28,3%
vs. 37,7%). Median kekakuan hati pada SOF/DCV adalah
12,30 kPa (5,2 - 37,4 kPa). Pada kelompok pasien dengan
SOF/DCV, sebanyak 10 (6,9%) pasien memiliki riwayat DM
dan sebanyak 14 (9,7%) memiliki koinfeksi HIV.
Pasien didominasi oleh HCV genotipe 1, baik pada
kelompok SOF/LDV maupun SOF/DCV [44 (63,7%) pasien
vs. 98 (67,6%)]. Rerata tingkat RNA HCV yang terdeteksi
pada subjek sebelum pemberian terapi SOF/LDV dan SOF/
DCV memiliki viral load yang sama [1,14 x 106 (1,43 x 102 -
4,39 x 107) vs. 3,67 x 105 (1,29 x 103 - 1,49 x 108); p=0,639].
Semua pasien tidak terdeteksi virus RNA HCV setelah
terapi kombinasi SOF/LDV, dengan proporsi SVR-12 adalah
69 (100%) pasien. Hanya sebagian kecil dari total subjek
pengobatan kelompok SOF/LDV yang membutuhkan durasi
terapi yang lama untuk mencapai SVR (24 minggu), yaitu
9 dari 69 pasien SOF/LDV. Proporsi SVR-12 pada kelompok
SOF/DCV adalah 142 (97,9%) pasien. Dari 3 pasien non-
SVR-12 pada kelompok SOF/DCV adalah genotipe 3 dan
menerima terapi selama 12 minggu. Salah satu dari pasien
yang gagal terapi memiliki koinfeksi. Analisis angka SVR-12
berdasarkan genotipe HCV dilakukan dalam penelitian ini
(Gambar 1).
DISKUSI
Penemuan DAA sebagai modalitas terapi merupakan
salah satu pondasi penting dalam penatalaksanaan
hepatitis C. Terapi dengan DAA menunjukkan hasil SVR
yang lebih baik, durasi pengobatan yang lebih singkat
secara signifikan, dan menunjukkan profil toksisitas yang
cukup rendah. Terapi DAA juga terbukti berhasil pada
pasien hepatitis C yang tidak dapat menerima pengobatan
interferon (misalnya intoleransi interferon, sirosis lanjut,
dan adanya komorbiditas).9
Genotipe yang paling sering ditemui pada penelitian
ini adalah genotipe 1. Distribusi genotipe ini serupa
dengan penelitian lain yang dilakukan di Indonesia, dengan
prevalensi genotipe 1 berkisar antara 46,7-64,4%.10-12
Genotipe 1 adalah genotipe yang paling sulit diobati
dengan obat paduan interferon.13 Pada penelitian ini,
meskipun mayoritas infeksi adalah genotipe 1, pemberian
SOF/LDV dan SOF/DCV menunjukkan hasil yang baik
(angka SVR-12: 100% vs. 97,9%). Hasil ini didukung oleh
penelitian yang dilakukan di Thailand, dengan tingkat SVR-
12 secara keseluruhan yang dicapai adalah 98,0% (IK95%:
96,7-98,8%) dan SVR-12 pada obat paduan kombinasi
SOF/LDV ialah 97,9% (IK95%: 94,8-99,2%).8
Pada penelitian ini, 100% SVR-12 tercapai pada 69
pasien dengan variasi genotipe HCV yang diobati dengan
SOF/LDV, sedangkan terdapat tiga pasien yang gagal
mencapai SVR-12 pada pengobatan kelompok SOF/DCV.
Meskipun tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam
hasil SVR-12 antara kelompok SOF/DCV dan kelompok SOF/
LDV, perlu diketahui bahwa kelompok SOF/DCV memiliki
jumlah sampel yang lebih besar (n=145) dibandingkan
dengan kelompok sofosbuvir-ledipasvir (n=69). Dalam
analisis statistik, peningkatan jumlah sampel dapat
memengaruhi hasil dan meningkatkan kemungkinan
deteksi perbedaan yang kecil antarkelompok.
Tiga pasien yang gagal mencapai SVR-12 memiliki
HCV genotipe 3. Hepatitis C Virus Therapeutic Registry
and Research Network (HCV-TARGET) melaporkan bahwa
HCV genotipe 3 masih menjadi tantangan untuk diobati,
terutama pada pasien dengan sirosis.14 Genotipe 3
merupakan genotipe yang unik di antara genotipe-genotipe
virus hepatitis C karena memiliki angka steatosis yang
lebih tinggi, perkembangan fibrosis yang lebih cepat, dan
186| Jurnal Penyakit Dalam Indonesia | V o l . 10, No. 4 | Desember 2 0 2 3
Andri S. Sulaiman, Irsan Hasan, C.R.A Lesmana, Juferdy Kurniawan, Gita Aprilicia,Yayah Nugroho, Nunuk Tri Wahyuni, Budiman S. Sulaiman
Tabel 1. Parameter demografis dan klinis awal pasien hepatitis C
Variabel Sofosbuvir-ledipasvir (n=69) Sofosbuvir-daclatasvir (n=145) Nilai p
Usia (tahun), rerata (SB) 51,1 (15,66) 51,9 (14,82) 0,696
Pria, n (%) 40 (58,0) 94 (64,8) 0,413
Terapi, n (%)
Pengobatan terdahulu 20 (29) 24 (16,6) 0,055
Naif 49 (71) 121 (83,4)
Durasi pengobatan, n (%)
24 minggu 9 (13) 38 (26,2) 0,046
12 minggu 60 (87) 107 (73,8)
Sirosis, n (%) 26 (37,7) 41 (28,3) 0,219
Kekakuan hati (kPa), median (RIK) 11,80 (3,60 – 49,70) 12,30 (5,2 – 37,4) 0,149
Diabetes melitus, n (%) 6 (8,7) 10 (6,9) 0,850
Koinfeksi HIV, n (%) 1 (1,4) 14 (9,7) 0,056
Karakteristik dasar virus hepatitis C
HCV RNA awal, median (RIK) 1,14 x 106 (1,43 x 102 – 4,39 x 107) 3,67 x 105 (1,29 x 103 – 1,49 x 108) 0,639
GenotIpe, n (%)
1/1a/1b/1c 11 (15,9)/ 12 (17,4)/ 20 (29)/ 1 (1,4) 28 (19,3)/ 32 (22,1)/ 33 (22,8)/ 5 (3,4) 0,062
2/ 2a/ 2c 4 (5,8%) / - / - 4 (2,8)/ 3 (2,1)/ 1 (0,7)
3 / 3a / 3f / 3k 5 (7,2)/ 1 (1,4)/ - / - 9 (6,2)/ 6 (4,1)/ 1 (0,7)/ 5 (3,4)
4/4a/4c/4h 4 (5,8)/ 2 (2,9)/ 1 (1,4) 1 (0,7)/ - / - / 3 (2,1)
Indeterminan 8 (11,6) 8 (5,5)
Tidak diketahui - 6 (4,1)
Karakteristik dasar laboratorium
Trombosit, rerata (SB) 200 (66,53) 103/μL 171 (94,14) 103/μL 0,145
Bilirubin, median (RIK) 0,70 (0,10 – 4,05) mg/dL 0,82 (0,16 – 4,41) mg/dL 0,583
SGOT, median (RIK) 68 (12 – 336) U/L 53 (20 – 245) U/L 0,097
SGPT, median (RIK) 69 (7 – 327) U/L 47 (3 – 204) U/L 0,173
Kreatinin, rerata (SB) 0,92 (0,24) mL/min 0,92 (0,27) mL/min 0,269
Albumin, median (RIK) 4,20 (2,6 – 4,9) g/dL 4,23 (2,5 – 5,0) g/dL 0,880
Luaran terapi
SVR-12, n (%)
Ya 69 (100) 142 (97,9) 0,561
Tidak 0 (0) 3 (2,1)
SB= simpang baku; RIK= rentang interkuartil
Gambar 1. Tingkat SVR-12 berdasarkan genotipe virus hepatitis C
Rerata SVR-12 (%)
187Jurnal Penyakit Dalam Indonesia | V o l . 10, No. 4 | Desember 2 0 2 3|
Kombinasi Sofosbuvir-Ledipasvir dan Sofosbuvir-Daclatasvir pada Pengobatan Pasien Hepatitis C di Indonesia
angka kesembuhan yang lebih rendah.15 Dalam penelitian
ini, efektivitas SOF/DCV pada pasien hepatitis C genotipe
3 lebih rendah dibandingkan dengan obat paduan SOF/
LDV (3/21 pasien genotipe-3 yang diobati dengan SOF/
DCV tidak dapat mencapai SVR-12). Salah satu dari pasien
yang mengalami kegagalan terapi pada pasien dengan
genotipe 3 adalah pasien dengan koinfeksi HIV. Koinfeksi
HIV dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi
respons pengobatan. Pasien dengan koinfeksi HIV
memiliki karakteristik klinis yang berbeda akibat adanya
kondisi imunosupresif yang dapat memengaruhi respons
pengobatan. Regimen SOF/LDV dapat digunakan sebagai
terapi alternatif di Indonesia ketika sofosbuvir velpatasvir
(SOF/VEL) masih terbatas.
European Association for the Study of the Liver
(EASL) telah merekomendasikan SOF/LED sebagai terapi
obat paduan untuk genotipe 1, 4, 5, dan 6.16 Meskipun
demikian, penelitian Dar17 yang melakukan evaluasi SOF/
LDV pada pasien dengan genotipe 3 memperoleh hasil
bahwa SVR-12 rate masih cukup baik, yaitu pada pasien
non-sirosis genotipe 3 mencapai 96%, sementara pada
pasien sirosis genotipe 3 sebesar 75%. Selain itu, studi
meta-analisis pada 12 studi dengan 711 pasien yang
diberikan terapi SOF/LED menyebutkan bahwa pooled
SVR-12 rate sebesar 89,8% (IK95%; 85,9 – 92,7%), dengan
rincian SVR-12 per genotipe 1, 2, 3, 4, 6 ialah 92,4%, 90%,
80,9%, 81,0%, dan 75,0%.18 Dalam penelitian ini, peneliti
memberikan pengobatan SOF/LED kepada seluruh pasien
di klinik hati tanpa mempertimbangkan variasi genotipe
karena saat itu satu-satunya opsi obat yang tersedia adalah
SOF/LED. Sofosbuvir diperkenalkan di Indonesia pada
tahun 2016 melalui program akses khusus. Kombinasi SOF/
LED diperkenalkan pertama kali, kemudian diikuti dengan
alternatif pilihan pengobatan menggunakan SOF/DCV
yang tersedia untuk berbagai genotipe virus di Indonesia.
Durasi pengobatan untuk kombinasi sofosbuvir-
ledipasvir tergantung pada keberadaan sirosis dan
tingkat keparahannya. Berdasarkan panduan tata laksana
pengobatan hepatitis C, durasi pengobatan 12 minggu
diberikan pada pasien yang mengalami sirosis kompensata.
Sementara itu, durasi pengobatan diperpanjang
hingga 24 minggu pada pasien yang mengalami sirosis
dekompensata. Di antara 26 pasien sirosis dalam kelompok
yang diobati dengan SOF/LED, 17 orang menerima terapi
selama 12 minggu, sedangkan 9 pasien lainnya menjalani
obat paduan pengobatan selama 24 minggu. Perbedaan
ini disebabkan oleh kendala finansial yang dihadapi oleh
beberapa pasien dalam mendapatkan obat sofosbuvir-
ledipasvir. Pada saat diperkenalkan di pasar Indonesia,
harga sofosbuvir adalah Rp 6.000.000,00 untuk satu
paket berisi 30 tablet. Bagi pasien yang tidak dapat
menjalani pengobatan selama 24 minggu dengan alasan
ketidakmampuan biaya, maka rencana pengobatan pasien
disesuaikan menjadi 12 minggu.
Durasi terapi hepatitis C merupakan aspek penting
yang perlu dipertimbangkan pada pasien yang menjalani
pengobatan hepatitis C. Terapi kombinasi SOF/LED dan
SOF/DCV memberikan dua pilihan durasi pengobatan, yaitu
12 minggu dan 24 minggu. Pada saat mengelola pasien
hepatitis C dengan durasi terapi yang diperpanjang, salah
satu aspek penting yang perlu dipertimbangkan adalah
masalah biaya. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di
Jerman mengenai efektivitas biaya dari berbagai kombinasi
DAA, kombinasi SOF/LDV masih menjadi terapi dengan
biaya paling rendah dibandingkan dengan modalitas terapi
lainnya.19 Di Indonesia, SOF/LDV memiliki biaya yang
lebih terjangkau dibandingkan dengan SOF/DCV. Biaya
SOF/LDV adalah Rp6.000.000,00, sedangkan SOF/DCV
tersedia dengan harga Rp 7.000.000,00. Meskipun saat ini
tersedia pengobatan SOF/DCV yang diberikan secara gratis
oleh Kementrian Kesehatan RI di jejaring rumah sakit
pemerintah, namun ketersediaan stok obat ini tidak selalu
terjamin dan membutuhkan daftar tunggu antrian obat.
Aspek lain yang perlu dipertimbangkan dalam
pemilihan terapi adalah sediaan obat. Saat ini, hanya
kombinasi SOF/LDV dan SOF/VEL yang tersedia dalam
bentuk tablet tunggal. Sebaliknya, SOF/DCV tersedia
dalam bentuk terpisah (dua tablet).20 Perbedaan ini
dapat berdampak pada kepatuhan pasien selama
pengobatan jangka panjang. Selain itu, penggunaan
dua tablet dapat menimbulkan masalah seperti variasi
tanggal kedaluwarsa yang berpotensi memengaruhi
ketersediaan obat. Pemberian terapi SOF/LDV untuk
pasien di Indonesia merupakan pertimbangan yang layak
mengingat efektivitas yang baik dari kombinasi ini. Adapun
faktor pendukung lainnya adalah estimasi biaya yang lebih
rendah dibandingkan obat paduan lain.
Penelitian ini masih memiliki beberapa keterbatasan,
yaitu adanya perbedaan durasi pengamatan 12 minggu
dan 24 minggu yang diamati pada kelompok SOF/LDV, hal
ini tidak sesuai dengan konsensus tata laksana pengobatan
hepatitis C disebabkan keterbatasan biaya. Penelitian
ini juga memiliki ukuran sampel terbatas dan mayoritas
pasien mempunyai genotipe 1. Hal ini bisa mengurangi
keseluruhan generalisasi efektivitas pengobatan DAA
untuk genotipe lain yang mungkin kurang terwakili. Selain
itu, terdapat variasi karakteristik pasien yang tidak dapat
dikontrol lebih lanjut menggunakan analisis multivariat
karena ukuran sampel yang terbatas.
188| Jurnal Penyakit Dalam Indonesia | V o l . 10, No. 4 | Desember 2 0 2 3
Andri S. Sulaiman, Irsan Hasan, C.R.A Lesmana, Juferdy Kurniawan, Gita Aprilicia,Yayah Nugroho, Nunuk Tri Wahyuni, Budiman S. Sulaiman
SIMPULAN
Pada penelitian ini, SOF/LDV efektif bagi semua
pasien hepatitis C dengan beragam genotipe dan biaya
penggunaan SOF/LDV lebih terjangkau bagi pasien di
negara-negara berkembang dibandingkan dengan rejimen
SOF/DCV.
DAFTAR PUSTAKA
1. World Health Organization. Global hepatitis report 2017. Geneva:
World Health Organization; 2017.
2. Jefferies M, Rauff B, Rashid H, Lam T, Rafiq S. Update on global
epidemiology of viral hepatitis and preventive strategies. World J
Clin Cases. 2018;6(13):589–99.
3. Echeverría N, Moratorio G, Cristina J, Moreno P. Hepatitis C virus
genetic variability and evolution. World J Hepatol. 2015;7(6):831–
45.
4. Irekeola AA, Malek NA, Wada Y, Mustaffa N, Muhamad NI, Shueb
RH. Prevalence of HCV genotypes and subtypes in Southeast
Asia: A systematic review and meta-analysis. PLoS One.
2021;16(5):e0251673.
5. Juniastuti J, Wibowo BP, Wibawa IDN, Utsumi T, Mustika S, Amin
M, et al. Interleukin-28B polymorphisms and response of chronic
hepatitis C patients from Indonesia to pegylated interferon/
ribavirin treatment. J Clin Microbiol. 2014;52(6):2193–5.
6. Yau AHL, Yoshida EM. Hepatitis C drugs: The end of the pegylated
interferon era and the emergence of all-oral, interferon-free
antiviral regimens: a concise review. Can J Gastroenterol Hepatol.
2014;28(8):445–51.
7. Smith-Palmer J, Cerri K, Valentine W. Achieving sustained virologic
response in hepatitis C: A systematic review of the clinical, economic
and quality of life benefits. BMC Infect Dis. 2015;16(2):188-97.
8. Charatcharoenwitthaya P, Wongpaitoon V, Komolmit P,
Sukeepaisarnjaroen W, Tangkijvanich P, Piratvisuth T, et al. Real-
world effectiveness and safety of sofosbuvir and nonstructural
protein 5A inhibitors for chronic hepatitis C genotype 1, 2, 3, 4, or 6:
A multicentre cohort study. BMC Gastroenterol. 2020;20(1):1–15.
9. Manns MP, Maasoumy B, Rice CM. Breakthroughs in hepatitis C
research: from discovery to cure. 2022;19(8):533–50.
10. Hasan I, Lesmana L, Sulaiman A, Akbar N, Gani RA, Soemarno S, et
al. Efficacy and safety of in-Asia-manufactured interferon alpha-2b
in combination with ribavirin for therapy of naïve chronic hepatitis
C Patients: A multicenter, prospective, open-label trial. Indones J
Gastroenterol Hepatol Dig Endosc. 2009;10(1):7–13.
11. Utama A, Tania NP, Dhenni R, Gani RA, Hasan I, Sanityoso A, et al.
Genotype diversity of hepatitis C virus (HCV) in HCV-associated
liver disease patients in Indonesia. Liver Int. 2010;30(8):1152–60.
12. Kurniawan J, Gani RA, Hasan I, Sulaiman AS, Lesmana CRA.
Comparative efficacy of sofosbuvir-ribavirin versus sofosbuvir-
daclatasvir for treatment of chronic hepatitis C in an area
with limited NS5A inhibitor availability. Indian J Gastroenterol.
2019;37(6):520-5.
13. Rezaee-Zavareh M, Hesamizadeh K, Behnava B, Alavian S, Gholami-
Fesharaki MSH. Combination of ledipasvir and sofosbuvir for
treatment of hepatitis C virus genotype 1 infection: systematic
review and meta-analysis. Ann Hepatol. 2017;16(2):188-97.
14. Feld JJ, Maan R, Zeuzem S, Kuo A, Nelson DR, Di Bisceglie AM, et al.
Effectiveness and safety of sofosbuvir-based regimens for chronic
HCV genotype 3 infection: results of the HCV-TARGET Study. Clin
Infect Dis. 2016; 63(6):776–83.
15. Chan A, Patel K, Naggie S. Genotype 3 infection: the last stand of
hepatitis C virus. Drugs. 2017;77(2):131–44.
16. Pawlotsky JM, Negro F, Aghemo A, Berenguer M, Dalgard O,
Dusheiko G, et al. EASL recommendations on treatment of hepatitis
C: Final update of the series. J Hepatol. 2020;73(5):1170–218.
17. Dar GA, Yattoo GN, Gulzar GM, Sodhi JS, Gorka S, Laway MA.
Treatment of chronic hepatitis C genotype 3 with ledipasvir
and sofosbuvir: an observational study. J Clin Exp Hepatol.
2021;11(2):227–31.
18. Yang X, Tang Y, Xu D, Zhang G, Xu P, Tang H, et al. Efficacy and
safety of ledipasvir/sofosbuvir for hepatitis C among drug users: a
systematic review and meta-analysis. Virol J. 2021;18(1):1–13.
19. Stahmeyer JT, Rossol S, Liersch S, Guerra I, Krauth C. Cost-
effectiveness of treating hepatitis c with sofosbuvir/ledipasvir in
Germany. PLoS One. 2017;12(1):1–18.
20. Diana G, Gregory H. Ledipasvir/sofosbuvir (Harvoni): Improving
options for hepatitis C virus infection. P T. 2015;40(4):256–76.
Medicine (General)