Hasil untuk: "jurnal hiv"· 26 jurnal · 0 ebook

Open AccessCrossrefOpenAlexOpen Access2015

Interactive telemedicine: effects on professional practice and health care outcomes

Gerd Flodgren, Antoine Rachas, Andrew J Farmer, Marco Inzitari, Sasha Shepperd

Cochrane Database of Systematic Reviews · Elsevier BV

BACKGROUND: Telemedicine (TM) is the use of telecommunication systems to deliver health care at a distance. It has the potential to improve patient health outcomes, access to health care and reduce healthcare costs. As TM applications continue to evolve it is important to understand the impact TM might have on patients, healthcare professionals and the organisation of care. OBJECTIVES: To assess the effectiveness, acceptability and costs of interactive TM as an alternative to, or in addition to, usual care (i.e.

TelemedicineHealth careNursingMedical education
Open AccessCrossrefOpenAlexOpen Access2021

Faktor Risiko Kejadian Tuberkulosis di Indonesia

Sesar Dayu Pralambang, Sona Setiawan

Jurnal Biostatistik Kependudukan dan Informatika Kesehatan

Tuberkulosis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Kuman Mycobacterium tuberculosis menular melalui udara (airborne disease). dari penderita sakit tuberkulosis ke orang lain disekitarnya. Tujuan dari penelitian ini mengetahui lebih rinci faktor apa sajakah yang berpengaruh terhadap tingginya kejadian di Indonesia. Metode yang dilakukan adalah menggunakan telaah artikel atau jurnal yang penerbitannya kurang dari 10 tahun dan tersedia di database online (Proquest, Sciencedirect, Scopus, Wiley Online dan Google Cendekia). Hasil dari meta analisis didapatkan bahwa faktor sosiodemografi

MedicineGynecology
Open AccessCrossrefOpenAlexOpen Access2018

Dukungan Keluarga Terhadap Kelangsungan Hidup ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS)

Nancy Rahakbauw

Masalah HIV/AIDS bukan hanya sebagai permasalahan yang terjadi di tingkat lokal, namun sudah menjadi permasalahan regional maupun global. Masalah ini telah menimbulkan banyak korban, baik anak-anak maupun orang dewasa, bahkan telah mengguncang kehidupan keluarga. HIV bukan hanya berdampak secara medis namun juga berdampak secara psikososial-spritual. Kondisi ini sangat memprihatinkan apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Bangsa Indonesia akan kehilangan generasi muda yang produktif. Oleh karena itu, untuk menekan penyebaran virus ini maka dibutuhkan keterlibatan serta dukungan berbagai pihak terutama

HumanitiesArt
Open AccessCrossrefOpenAlexOpen Access2021

Faktor Risiko Kejadian HIV Pada Kelompok Usia Produktif di Indonesia

Diah Rohmatullailah, Dina Fikriyah

Jurnal Biostatistik Kependudukan dan Informatika Kesehatan

HIV merupakan salah satu masalah kesehatan global, di Indonesia jumlah kasus HIV positif dari tahun ke tahun semakin meningkat dan paling banyak terjadi pada kelompok usia produktif yaitu usia 25-49 tahun. HIV merupakan virus yang melemahkan kekebalan tubuh manusia. Kejadian HIV dipengaruhi oleh banyak faktor yang mendukung penyebaran kasus ini. Tujuan untuk mengetahui faktor yang berisiko terhadap kejadian HIV di Indonesia. Metode yang digunakan adalah penelusuran pustaka dengan menelaah faktor risiko kejadian HIV berdasarkan 10 jurnal kesehatan yang dipublikasikan 10

GynecologyHuman immunodeficiency virus (HIV)MedicineFamily medicine
Open AccessCrossrefOpenAlexOpen Access2020

Hubungan antara Sifilis dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV)/ Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS)

Muhammad Caesario Liazmi, Jundi Fathan Mubina

Jurnal Penelitian Perawat Profesional

Sifilis adalah salah satu infeksi menular seksual atau IMS dan disebabkan oleh Treponema pallidum.Menurut laporan Kasus sifilis terjadi pada populasi waria, lelaki seks lelaki atau LSL, wanita penjaja seks atau WPS, dan pengguna napza suntik atau penasun. Di RS X, terdapat 40 kasus baru sifilis di RS Dr. Hasan Sadikin (RSHS). Dari total kasus tersebut 5 kasus diantaranya disertai infeksi HIV.Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan sifilis dengan HIV/ AIDS.Penelitian ini menggunakan metode literature review. Sumber pustaka yang digunakan untuk penyusunan

SyphilisTreponemaHuman immunodeficiency virus (HIV)Medicine
Open AccessCrossrefOpenAlexOpen Access2022

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Hidup Orang Dengan Hiv/Aids (ODHA)

Vindi elok latifatul Kolbi

Media Gizi Kesmas

Latar Belakang: Seluruh Dunia masih dihadapkan oleh permasalahan yang sama yakni HIV/AIDS. Penyakit yang tak kunjung usai ini cukup membahayakan mengingat belum adanya obat untuk penyakit ini hanya ada Anti Retro Viral (ARV) yang merupakan obat untuk membekukan virus dan mempertahankan hidup Data terakhir sampai Maret 2021, seperti dilaporkan oleh Ditjen P2P, Kemenkes RI, tanggal 25 Mei 2021, menunjukkan jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Indonesia sebanyak 558.618 yang terdiri atas 427.201 HIV dan 131.417 AIDS. Tujuan: tujuan dalam penelitian ini

GynecologyHuman immunodeficiency virus (HIV)MedicineFamily medicine
Crossref2017

Pengetahuan Tentang HIV/AIDS Berhubungan Dengan Konseling HIV/AIDS pada Ibu Rumah Tangga HIV/AIDS

Sundari Mulyaningsih

Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia · Alma Ata University Press

<em>The number of HIV/AIDS in Indonesia is more increasing and its distribution has been very complex. Now, HIV/AIDS is also attacking housewives, whose activity is mostly at home. In Yogyakarta, there are many obstacles to the practice of taking ARV, because of the less openness of HIV/AIDS sufferers, uncontrollable distribution and irregular consumption of ARV. The purpose of this research is to know investigate the relation between the knowledge of HIV/AIDS and the counseling of HIV/AIDS among housewives with HIV/AIDS in Yogyakarta. This research is </em>quantitative<em> study with a cross-sectional approach. The sample is 47 housewives with HIV/AIDS. The data was collected through the interview using a structured questionnaire and analyzed by chi-square to know investigate the relation between the knowledge of HIV/AIDS and the counseling of HIV/AIDS. This research showed that the majority of respondents had less knowledge about HIV/AIDS (61.7%) and did not attend counseling (59.6%). The analysis between two variables using chi-square result p=0.000, it means that there was a correlation between knowledge of HIV/AIDS and the counseling of HIV/AIDS among housewives with HIV/AIDS in Yogyakarta.</em>

Lihat teks lengkap 3 sitasi
Open AccessCrossrefOpenAlexOpen Access2023

Efektifitas Terapi Antiretroviral Terhadap Pasien HIV (Literature Review)

Egidia Tiffany, Wachidah Yuniartika

Jurnal Multidisiplin West Science

HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan sebuah virus yang bisa menyebabkan infeksi pada sel darah putih dan menurunkan kekebalan imun tubuh pada manusia. Penyakit HIV belum bisa disembuhkan hingga saat ini namun infeksi dan replikasi HIV masih bisa dicegah dengan obat. Salah satu obat yang digunakan dalam pengobatan HIV adalah Antiretroviral (ARV). Terapi ARV merupakan pengobatan medis yang dinilai efektif bagi penderita HIV karena mampu menekan perkembangan HIV di dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pengobatan Antiretroviral (ARV) pada

MedicineHuman immunodeficiency virus (HIV)GynecologyVirology
Open AccessCrossrefOpenAlexOpen Access2019

Literature Review : Efektifitas SMS Reminder dan Wechat Dalam Meningkatkan Kepatuhan Minum Obat ARV Pada Penderita HIV/AIDS

Nuraidah Nuraidah

The Indonesian Journal of Infectious Diseases

Latar belakang: Aplikasi seluler SMS dan WeChat selain dapat digunakan sebagai SMS reminder juga dapat menjadi media visual untuk pendidikan kesehatan yang berisi materi pencegahan penularan HIV/AIDS, diagnosis dan pengobatan HIV/AIDS sehingga kualitas hidup pasien dapat meningkat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas SMS reminder dan WeChat dalam meningkatkan kepatuhan minum obat ARV pada penderita HIV/AIDS. Metode: Artikel ini dibuat berdasarkan literature review artikel jurnal yang berkaitan dengan inovasi mHealth lima tahun terakhir yaitu 2013-2018. Hasil: Dari 4 jurnal

Human immunodeficiency virus (HIV)MedicineFamily medicine
Crossref2014

Persepsi Pasien dengan HIV/AIDS dan Keluarganya Tentang HIV/AIDS dan Stigma Masyarakat Terhadap Pasien HIV/AIDS

Agung Waluyo, Elly Nurachmah, Rosakawati Rosakawati

Jurnal Keperawatan Indonesia · Universitas Indonesia, Directorate of Research and Public Service

AbstrakTujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi persepsi pasien HIV/AIDS dan keluarganya tentang HIV/AIDS dan stigma masyarakat terhadap pasien HIV/AIDS. Pendekatan yang digunakan pada penelitian kualitatif ini adalah fenomenologi. Sejumlah 13 informan (7 pasien dan 6 anggota keluarga) berpartisipasi dalam penelitian ini. Profil demografik informan klien HIV/AIDS meliputi pendidikan sekolah menengah atas sampai perguruan tinggi, berjenis kelamin pria usia 18–40 tahun. Informan keluarga umumnya adalah kakak kandung (berjenis kelamin pria dan wanita) dan orangtua (ibu) dari klien HIV/AIDS berusia 45–55 tahun. Hasil analisis didapatkan beberapa tema: (1) Pengetahuan pasien/keluarga tentang HIV/AIDS yang rendah (2) Pasien tidak terinformasi tentang penyakitnya (3) Kepercayaan yang salah tentang HIV/AIDS dan cara penularannya (4) Pasien HIV/AIDS bertanggung jawab atas dan pantas untuk terinfeksi HIV/AIDS (5) Perasaan takut dikucilkan/ upaya untuk merahasiakan tentang penyakitnya (6) Perasaan tersisih/ dikucilkan oleh keluarga dan kelompok tertentu (7) Intimidasi/ teror fisik (8) Putus asa dan (9) Harapan pasien HIV/AIDS. Hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk meminimalkan stigma dengan cara mengoptimalkan pengetahuan masyarakat sehingga deteksi dini pada orang yang berisiko dapat dilakukan. Hal ini memungkinkan terjadinya optimalisasi terapi ARV dan efektifitas asuhan keperawatan pada pasien HIV/AIDS dan juga peningkatan kualitas hidup pasien. AbstractThe purpose of this study was to identify the patient’s and relative’s perception on HIV/AIDS & stigma amongst the people. The design of this qualitative research is phenomenology approach. Thirteen informants (7 patients and 6 relatives of the patients) participated the study. The demographic profile of the informants were male and female with age from 18 years old to 40 years old for the patient and 45-55 for relatives. The findings identified some themes which are: (1) Lack of knowledge about HIV/AIDS on patient and relatives (2) The patients were not well informed on their condition (3) Misperception on HIV/AIDS and mode of spreading of HIV/AIDS (4) HIV/AIDS patients are responsibled and deserved for having infected HIV/ AIDS (5) The effort of the patient & their relatives to say nothing about their condition because they are afraid to be isolated from the community (6) The feeling of being isolated by the family member or a certain group of the people (7) Intimidation and physical Teror (8) The feeling of desperate and (9) Patient’s hopes. The result of these studies could be beneficial to minimize stigma by improving the knowledge of the people where it may optimize the early detection on the high risk people. It could also optimizes the treatment of ARV & the nursing care to the HIV/AIDS patient and their quality of life during AIDS stage.

Lihat teks lengkap 2 sitasi
Open AccessCrossrefOpenAlexOpen Access2019

ANALISIS JURNAL DUKUNGAN KELUARGA, DUKUNGAN PETUGAS KESEHATAN,DAN PERILAKU IBU HIV DALAM PENCEGAHAN PENULARAN HIV ATAU AIDS KE BAYI

LEONARDO LUCIANO ADOLF

penelitian Legiati, dkk yang mengatakan bahwa responden dengan dukungan bidan yang baik, proporsi responden yang melakukan tes HIV sebagai salah satu cara upaya pencegahan HIV lebih banyak daripada responden dengan dukungan bidan yang kurang. Ada hubungan antara dukungan bidan dengan perilaku tes HIV sebagai salah satu cara upaya pencegahan penularan HIV

Human immunodeficiency virus (HIV)MedicineImmunology
Crossref2025

Advanced HIV Disease: Wajah HIV yang Hampir Terlupakan

Jurnal Penyakit Dalam Indonesia · Universitas Indonesia

Human immunodeficiency virus (HIV) pertama kali diketahui pada 1983 dan setelah 40 tahun jumlah kasusnya mencapai 39,9 juta pada tahun 2023, dengan sebagian besar kasus pada usia di atas 15 tahun. Perkembangan pengetahuan pada penyakit ini sangat maju yang tercerminkan dengan angka harapan hidup mendekati orang tanpa HIV sejak ditemukannya terapi antiretrovirus (ARV) kombinasi atau yang dikenal dengan highly active antiretroviral therapy (HAART).

CrossrefDOAJOpen Access2025

Media Interaktif Penyuluhan HIV/AIDS Berbasis Android

Anggy Eka Pratiwi, Ari Sellyana, Mustazihim Suhaidi

Jurnal Teknologi Komputer dan Informasi · Jurnal UNITEK, Sekolah Tinggi Teknologi Dumai

Technological advances have developed very rapidly and quickly, one of which is the health sector. Developments in the health sector are not only regarding increasingly developed medical equipment, but also media outreach which functions to increase knowledge to the public that health is very important, for example HIV/AIDS. Based on data from the Dumai City Health Service, HIV/AIDS cases in Dumai City are quite high, where the number of HIV in Dumai City in 2023 will reach 551 cases and AIDS will reach 324 cases. This increase in cases is due to a lack of public awareness of the dangers of HIV. /AIDS, especially among high school/vocational school students in the city of Dumai. Students must understand the importance of reproductive health and avoid casual sex to prevent HIV transmission and risky sexual behavior. Researchers used the Multimedia Development Life Cycle (MDLC) method in conducting research with stages such as Concept, Material Collection, Creation, Testing, Distribution. This interactive research media is made in the form of an animated video. The results of the questionnaire questions showed that of the 20 respondents each was given 10 questions. The index value obtained from the calculation was 88.1% of the total 100%, so it can be concluded that the respondents "VERY AGREE" that this interactive media can be used to prevent HIV/AIDS cases and as an educational media that is interesting and easy to understand for high school/high school students. in Dumai City.

DOAJOpen Access2023

Combination of Sofosbuvir-Ledipasvir and Sofosbuvir- Daclatasvir for Treatment HCV Patients in Indonesia

Andri Sanityoso Sulaiman, Irsan Hasan, Cosmas Rinaldi Adithya Lesmana, Juferdy Kurniawan, Gita Aprilicia et al.

Jurnal Penyakit Dalam Indonesia · Department of Internal Medicine, Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Introduction. Direct-acting antivirals (DAAs) has been developed for treatment hepatitis C virus (HCV). Therapy of HCV using DAA has shown high sustained virologic response (SVR) and shortening duration of therapy. Sofosbuvir-ledipasvir (SOF/LDV) is fixed dose combination tablet of DAAs which recommended for genotype 1, 4, 5, and 6 infected patients. In developing countries, SOF/LDV still can be used as cost-effective regimen in all genotype compared with sofosbuvir-daclatasvir (SOF/ DCV). This study aimed to evaluate the efficacy of combination sofosbuvir-ledipasvir in all genotypes of HCV patients compared with available DAA in Indonesia (sofosbuvir- daclatasvir). Methods. A retrospective study was conducted among patients who received HCV therapy in Klinik Hati and Cipto Mangunkusumo Hospital during January until December 2017. Demographic data, baseline characteristics virus, and baseline characteristics laboratory were collected from medical record. Quantitative polymerase chain reaction (PCR) for Jurnal Penyakit Dalam IndonesiaJurnal Penyakit Dalam Indonesia Volume 10 Issue 4 Article 3 12-31-2023 Kombinasi Sofosbuvir-Ledipasvir dan Sofosbuvir- DaclatasvirKombinasi Sofosbuvir-Ledipasvir dan Sofosbuvir- Daclatasvir pada Pengobatan Pasien Hepatitis C di Indonesiapada Pengobatan Pasien Hepatitis C di Indonesia Andri Sanityoso Sulaiman DrHepatobiliary Division, Medical Staff Group of Internal Medicine, Faculty of Medicine Universitas Indonesia, Cipto Mangunkusumo National General Hospital, Jakarta, Indonesia., andri_sani@yahoo.com Irsan Hasan DrHepatobiliary Division, Medical Staff Group of Internal Medicine, Faculty of Medicine Universitas Indonesia, Cipto Mangunkusumo National General Hospital, Jakarta, Indonesia., irsan_h@yahoo.com Cosmas Rinaldi Adithya Lesmana DrHepatobiliary Division, Medical Staff Group of Internal Medicine, Faculty of Medicine Universitas Indonesia, Cipto Mangunkusumo National General Hospital, Jakarta, Indonesia., medicaldr2001id@yahoo.com Juferdy Kurniawan DrHepatobiliary Division, Medical Staff Group of Internal Medicine, Faculty of Medicine Universitas Indonesia, Cipto Mangunkusumo National General Hospital, Jakarta, Indonesia., juferdy.k@gmail.com Gita ApriliciaHepatobiliary Division, Medical Staff Group of Internal Medicine, Faculty of Medicine Universitas Indonesia, Cipto Mangunkusumo National General Hospital, Jakarta, Indonesia., gita.2a3@gmail.com See next page for additional authors Follow this and additional works at: https://scholarhub.ui.ac.id/jpdi Part of the Internal Medicine Commons, and the Virus Diseases Commons Recommended CitationRecommended Citation Sulaiman, Andri Sanityoso Dr; Hasan, Irsan Dr; Lesmana, Cosmas Rinaldi Adithya Dr; Kurniawan, Juferdy Dr; Aprilicia, Gita; Nugroho, Yayah Dr; Wahyuni, Nunuk Tri Dr; and Sulaiman, Budiman Sujatmika (2023) "Kombinasi Sofosbuvir-Ledipasvir dan Sofosbuvir- Daclatasvir pada Pengobatan Pasien Hepatitis C di Indonesia," Jurnal Penyakit Dalam Indonesia: Vol. 10: Iss. 4, Article 3. DOI: 10.7454/jpdi.v10i4.1501 Available at: https://scholarhub.ui.ac.id/jpdi/vol10/iss4/3 This Original Article is brought to you for free and open access by the Faculty of Medicine at UI Scholars Hub. It has been accepted for inclusion in Jurnal Penyakit Dalam Indonesia by an authorized editor of UI Scholars Hub. Kombinasi Sofosbuvir-Ledipasvir dan Sofosbuvir- Daclatasvir pada PengobatanKombinasi Sofosbuvir-Ledipasvir dan Sofosbuvir- Daclatasvir pada Pengobatan Pasien Hepatitis C di IndonesiaPasien Hepatitis C di Indonesia AuthorsAuthors Andri Sanityoso Sulaiman Dr, Irsan Hasan Dr, Cosmas Rinaldi Adithya Lesmana Dr, Juferdy Kurniawan Dr, Gita Aprilicia, Yayah Nugroho Dr, Nunuk Tri Wahyuni Dr, and Budiman Sujatmika Sulaiman This original article is available in Jurnal Penyakit Dalam Indonesia: https://scholarhub.ui.ac.id/jpdi/vol10/iss4/3 LAPORAN PENELITIAN183Jurnal Penyakit Dalam Indonesia | V o l . 10, No. 4 | Desember 2 0 2 3 | Kombinasi Sofosbuvir-Ledipasvir dan Sofosbuvir- Daclatasvir pada Pengobatan Pasien Hepatitis C di Indonesia Combination of Sofosbuvir-Ledipasvir and Sofosbuvir- Daclatasvir for Treatment HCV Patients in Indonesia Andri Sanityoso Sulaiman1,2, Irsan Hasan1, Cosmas Rinaldi Adithya Lesmana1, Juferdy Kurniawan1, Gita Aprilicia1, Yayah Nugroho2, Nunuk Tri Wahyuni2, Budiman Sujatmika Sulaiman2 1Divisi Hepatobilier, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta 2Klinik Hati Prof Ali Sulaiman, Jakarta Korespondensi: Andri Sanityoso Sulaiman. Divisi Hepatobilier, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Indonesia. Email: andri_sani@yahoo.com ABSTRAK Pendahuluan. Direct-acting antivirals (DAAs) telah dikembangkan untuk pengobatan virus hepatitis C (VHC). Terapi hepatitis C dengan menggunakan DAA telah menunjukkan respons virologis berkelanjutan yang tinggi (sustained virologic response/SVR) dan durasi terapi yang lebih singkat. Sofosbuvir-ledipasvir (SOF/LDV) adalah tablet kombinasi DAA dengan dosis tetap yang direkomendasikan untuk pasien yang terinfeksi genotipe 1, 4, 5, dan 6. Di negara berkembang, SOF/LDV masih dapat digunakan sebagai obat paduan dengan biaya yang lebih ekonomis untuk semua genotipe dibandingkan dengan sofosbuvir-daclatasvir (SOF/DCV). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efikasi kombinasi sofosbuvir- ledipasvir pada semua genotipe pasien hepatitis C dibandingkan dengan DAA yang tersedia di Indonesia (sofosbuvir- daclatasvir). Metode. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif terhadap pasien yang mendapatkan terapi hepatitis C di Klinik Hati dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada periode Januari hingga Desember 2017. Data demografi, karakteristik awal virus, dan karakteristik awal laboratorium dikumpulkan dari rekam medis. Polymerase chain reaction (PCR) kuantitatif untuk muatan virus hepatitis C dinilai pada titik akhir penelitian. Efikasi SOF/LDV dan SOF/DCV dilakukan dengan respons virologis yang berkelanjutan pada minggu ke-12 (SVR-12). Hasil. Sebanyak 214 pasien hepatitis C diikutsertakan dalam penelitian ini. Sebanyak 69 pasien diobati dengan SOF/LDV, sedangkan 145 pasien diobati dengan SOF/DCV. Pada kelompok SOF/LDV, sebanyak 20 (29%) pasien memiliki pengalaman terapi, 9 (13%) menerima terapi 24 minggu, dan 26 (37,7%) pasien memiliki sirosis. Pada kelompok SOF/DCV, 24 (16,6%) pasien memiliki pengalaman terapi, 38 (26,2%) menerima terapi 24 minggu, dan 41 (28,3%) pasien memiliki sirosis. Pasien hepatitis C didominasi oleh genotipe 1 pada kedua kelompok SOF/LDV dan SOF/DCV (63,7 vs. 67,6%). Virus hepatitis C tidak terdeteksi pada seluruh pasien setelah terapi kombinasi SOF/LDV, dengan angka SVR-12 adalah 69/69 (100%). Sementara itu, angka SVR-12 mencapai 142/145 (97,9%) pada kelompok SOF/DCV. Kesimpulan. SOF/LDV efektif pada semua genotipe pasien hepatitis C dan biaya kombinasi dosis tunggal SOF/LDV lebih terjangkau bagi pasien di negara berkembang dibandingkan dengan rejimen SOF/DCV. Kata Kunci: Direct-acting antivirals (DAAs), sofosbuvir-daclatasvir (SOF/DCV), sofosbuvir-ledipasvir (SOF/LDV), SVR-12, virus hepatitis C ABSTRACT Introduction. Direct-acting antivirals (DAAs) has been developed for treatment hepatitis C virus (HCV). Therapy of HCV using DAA has shown high sustained virologic response (SVR) and shortening duration of therapy. Sofosbuvir-ledipasvir (SOF/LDV) is fixed dose combination tablet of DAAs which recommended for genotype 1, 4, 5, and 6 infected patients. In developing countries, SOF/LDV still can be used as cost-effective regimen in all genotype compared with sofosbuvir-daclatasvir (SOF/ DCV). This study aimed to evaluate the efficacy of combination sofosbuvir-ledipasvir in all genotypes of HCV patients compared with available DAA in Indonesia (sofosbuvir- daclatasvir). Methods. A retrospective study was conducted among patients who received HCV therapy in Klinik Hati and Cipto Mangunkusumo Hospital during January until December 2017. Demographic data, baseline characteristics virus, and baseline characteristics laboratory were collected from medical record. Quantitative polymerase chain reaction (PCR) for 184| Jurnal Penyakit Dalam Indonesia | V o l . 10, No. 4 | Desember 2 0 2 3 Andri S. Sulaiman, Irsan Hasan, C.R.A Lesmana, Juferdy Kurniawan, Gita Aprilicia,Yayah Nugroho, Nunuk Tri Wahyuni, Budiman S. Sulaiman HCV RNA were assessed at the end point of study. The efficacy of SOF/LDV and SOF/DCV were carried out by sustained virological response at 12 weeks (SVR-12). Results. A total of 214 HCV patients were include in this study. Sixty-nine patients treated with SOF/LDV, whereas 145 patients treated with SOF/DCV. In group of SOF/LDV, 20 (29%) patients had an experience therapy, 9 (13%) received 24-week therapy, 26 (37.7%) patients observed with cirrhosis. In group of SOF/DCV, 24 (16.6%) patients had an experience therapy, 38 (26.2%) received 24-week therapy, 41 (28.3%) patients observed with cirrhosis. The patients were dominated by HCV genotype 1 in both of group SOF/LDV and SOF/DCV (63.7% vs. 67.6%). All patients had undetected HCV RNA virus after the combination therapy of SOF/LDV, with the SVR-12 rate was 69 (100%) patients. Meanwhile, SVR-12 rate was achieved in 142 (97.9%) patients in group SOF/DCV. Conclusion. SOF/LDV is effective in all genotype of HCV patients and the cost fix dose combination of SOF/LDV more affordable to patients in developing countries compared with SOF/DCV regimen. Keywords: Direct acting antiviral agents (DAAs), HCV, sofosbuvir-daclatasvir (SOF/DCV), sofosbuvir-ledipasvir (SOF/LDV), SVR-12 PENDAHULUAN Infeksi hepatitis C telah menjadi epidemi global. Pada tahun 2015, World Health International (WHO) memperkirakan bahwa 71 juta penduduk dunia terinfeksi hepatitis C kronis.1 Total kematian terkait hepatitis C mencapai 399.000 penduduk pada tahun 2018, yang sebagian besar disebabkan oleh karsinoma hepatoseluler dan sirosis akibat infeksi virus hepatitis C.2 Virus hepatitis C (VHC) ditandai dengan variabilitas genetik yang beragam. Terdapat 7 genotipe dan lebih dari 67 subtipe VHC yang telah teridentifikasi di seluruh dunia.3 Genotipe yang paling banyak ditemukan di Indonesia adalah genotipe 1, dengan prevalensi diperkirakan 62,7%, diikuti oleh genotipe 2 (16,4%), genotipe 3 (13,0%), dan sebagian kecil genotipe 4 (2,7%), genotipe 5 (0,9%), dan genotipe 6 (1,3%).4 Genotipe 1 adalah genotipe yang paling sulit diobati dengan obat paduan pegylated interferon/ ribavirin (Peg-IFN/RBV). Sebuah studi oleh Juniastuti5 di Indonesia melaporkan bahwa hanya 73,5% pasien mencapai early virological response (EVR) dan sustained virological response (SVR) setelah pengobatan dengan Peg-IFN/RB. Sejak tahun 2016, direct acting antiviral agent (DAA) diusulkan menjadi pengobatan standar baru untuk pasien hepatitis C di Indonesia. Penemuan DAA telah mengubah pengobatan hepatitis C dengan meningkatkan sustained virologic response (SVR) dan memperpendek durasi pengobatan.6 Pencapaian SVR setelah pengobatan dengan DAA dikaitkan dengan berkurangnya risiko penyakit hati dan komplikasinya, termasuk dekompensasi sirosis, karsinoma hepatoseluler, dan kematian.7 Beberapa obat paduan kombinasi sofosbuvir (SOF) telah menunjukkan efektivitas dan keamanan yang unggul untuk mengobati infeksi VHC kronis. Secara khusus, kombinasi SOF dengan inhibitor protein nonstruktural 5A (NS5A), misalnya ledipasvir (LDV), daclatasvir (DCV), atau velpatasvir (VEL) telah menunjukkan efektivitas tinggi dengan tingkat SVR pada 12 minggu pasca pengobatan mencapai 80-90%.8 Sebagian besar data tentang efektivitas DAA pada pasien hepatitis C berasal dari negara barat, hanya sedikit data yang diperoleh dari negara di Asia, khususnya Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kombinasi Sofosbuvir-Ledipasvir pada semua genotipe pasien hepatitis C dibandingkan dengan DAA yang tersedia di Indonesia (sofosbuvir- daclatasvir). METODE Semua pasien dewasa dengan hepatitis C positif berusia di atas 18 tahun yang diobati dengan sofosbuvir di Klinik Hati Prof Ali Sulaiman dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada periode Januari hingga Desember 2017 diikutsertakan dalam penelitian ini secara retrospektif. Kriteria eksklusi adalah pasien dalam masa kehamilan, pasien dengan keganasan, dan pasien dengan adanya gangguan ginjal. Sumber data serial kasus SOF/ LDV hanya diperoleh dari Klinik Hati Prof Ali Sulaiman, sedangkan data serial kasus SOF/DCV diperoleh dari Klinik Hati Prof Ali Sulaiman dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Pada kelompok pertama, pasien menerima kombinasi SOF/LDV dengan dosis tetap tunggal secara oral (90 mg ledipasvir dan 400 mg sofosbuvir). Pada kelompok lain, pasien menerima SOF/DCV (60 mg daclatasvir dan 400 mg sofosbuvir). Jika pasien memiliki koinfeksi dengan human immunodeficiency virus (HIV), pasien menerima penyesuaian dosis daclatasvir 90 mg. Durasi pemberian DAA pada regimen SOF/DCV diberikan selama 12 minggu atau 24 minggu tergantung pada adanya sirosis hati. Sementara pada regimen SOF/LDV, sebagian besar pasien diberikan terapi selama 12 minggu dan ditambahkan menjadi 24 minggu pengobatan sesuai dengan kesanggupan pembiayaan pasien. Sebelum terapi, beberapa pemeriksaan klinis dan laboratorium dilakukan. Viral load HCV RNA, genotipe, riwayat terapi sebelumnya, ada tidaknya sirosis, riwayat diabetes melitus, dan kekakuan hati dikumpulkan 185Jurnal Penyakit Dalam Indonesia | V o l . 10, No. 4 | Desember 2 0 2 3| Kombinasi Sofosbuvir-Ledipasvir dan Sofosbuvir-Daclatasvir pada Pengobatan Pasien Hepatitis C di Indonesia sebelum terapi. Efikasi utama SOF/LDV dan SOF/DCV dilakukan dengan SVR-12 (tingkat SVR pada 12-minggu paska pengobatan). SVR didefinisikan sebagai virus yang tidak terdeteksi setelah dinilai dengan polymerase chain reaction (PCR) kuantitatif untuk RNA HCV. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 25. Data dinyatakan sebagai rerata [simpang baku (SB)] atau median (rentang) untuk data kontinu dan dinyatakan sebagai proporsi n (%) untuk data kategorikal. Perbandingan antarkelompok dinilai dengan uji t-test independent atau uji Man-Whitney untuk data kontinu dan uji chi square untuk data kategorik. Nilai p<0,05 dianggap signifikan secara statistik. Penelitian ini telah disetujui oleh Komite Etik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (no: 0068/ UN2.F1/ETIK/2018, nomor protokol: 17-12-1208) HASIL Sebanyak 214 pasien hepatitis C yang mendapat terapi sofosbuvir diikutsertakan dalam penelitian ini. Sebanyak 69 pasien menerima SOF/LDV dan 145 pasien menerima SOF/DCV (Tabel 1). Pada kelompok SOF/LDV, sebagian besar pasien dalam penelitian ini menerima terapi selama 12 minggu (87%), sementara sisanya menerima terapi kombinasi selama 24 minggu. Lebih dari 1/3 dari total pasien (37,7%) didiagnosis sirosis, sedangkan median kekakuan hati pada subjek penelitian ini adalah 11,80 kPa (3,60 - 49,70 kPa). Sebagian besar subjek tidak memiliki riwayat diabetes melitus (DM), hanya 6 pasien (8,7%) yang memiliki riwayat DM. Koinfeksi HIV tercatat pada 1 pasien (1,4%). Pada kelompok SOF/ DCV, pasien yang menerima terapi selama 12 minggu lebih rendah dibandingkan kelompok SOF/LDV (masing- masing 73,8% vs. 87%) dan pada sirosis hati lebih rendah dibandingkan kelompok SOF/LDV (masing-masing 28,3% vs. 37,7%). Median kekakuan hati pada SOF/DCV adalah 12,30 kPa (5,2 - 37,4 kPa). Pada kelompok pasien dengan SOF/DCV, sebanyak 10 (6,9%) pasien memiliki riwayat DM dan sebanyak 14 (9,7%) memiliki koinfeksi HIV. Pasien didominasi oleh HCV genotipe 1, baik pada kelompok SOF/LDV maupun SOF/DCV [44 (63,7%) pasien vs. 98 (67,6%)]. Rerata tingkat RNA HCV yang terdeteksi pada subjek sebelum pemberian terapi SOF/LDV dan SOF/ DCV memiliki viral load yang sama [1,14 x 106 (1,43 x 102 - 4,39 x 107) vs. 3,67 x 105 (1,29 x 103 - 1,49 x 108); p=0,639]. Semua pasien tidak terdeteksi virus RNA HCV setelah terapi kombinasi SOF/LDV, dengan proporsi SVR-12 adalah 69 (100%) pasien. Hanya sebagian kecil dari total subjek pengobatan kelompok SOF/LDV yang membutuhkan durasi terapi yang lama untuk mencapai SVR (24 minggu), yaitu 9 dari 69 pasien SOF/LDV. Proporsi SVR-12 pada kelompok SOF/DCV adalah 142 (97,9%) pasien. Dari 3 pasien non- SVR-12 pada kelompok SOF/DCV adalah genotipe 3 dan menerima terapi selama 12 minggu. Salah satu dari pasien yang gagal terapi memiliki koinfeksi. Analisis angka SVR-12 berdasarkan genotipe HCV dilakukan dalam penelitian ini (Gambar 1). DISKUSI Penemuan DAA sebagai modalitas terapi merupakan salah satu pondasi penting dalam penatalaksanaan hepatitis C. Terapi dengan DAA menunjukkan hasil SVR yang lebih baik, durasi pengobatan yang lebih singkat secara signifikan, dan menunjukkan profil toksisitas yang cukup rendah. Terapi DAA juga terbukti berhasil pada pasien hepatitis C yang tidak dapat menerima pengobatan interferon (misalnya intoleransi interferon, sirosis lanjut, dan adanya komorbiditas).9 Genotipe yang paling sering ditemui pada penelitian ini adalah genotipe 1. Distribusi genotipe ini serupa dengan penelitian lain yang dilakukan di Indonesia, dengan prevalensi genotipe 1 berkisar antara 46,7-64,4%.10-12 Genotipe 1 adalah genotipe yang paling sulit diobati dengan obat paduan interferon.13 Pada penelitian ini, meskipun mayoritas infeksi adalah genotipe 1, pemberian SOF/LDV dan SOF/DCV menunjukkan hasil yang baik (angka SVR-12: 100% vs. 97,9%). Hasil ini didukung oleh penelitian yang dilakukan di Thailand, dengan tingkat SVR- 12 secara keseluruhan yang dicapai adalah 98,0% (IK95%: 96,7-98,8%) dan SVR-12 pada obat paduan kombinasi SOF/LDV ialah 97,9% (IK95%: 94,8-99,2%).8 Pada penelitian ini, 100% SVR-12 tercapai pada 69 pasien dengan variasi genotipe HCV yang diobati dengan SOF/LDV, sedangkan terdapat tiga pasien yang gagal mencapai SVR-12 pada pengobatan kelompok SOF/DCV. Meskipun tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hasil SVR-12 antara kelompok SOF/DCV dan kelompok SOF/ LDV, perlu diketahui bahwa kelompok SOF/DCV memiliki jumlah sampel yang lebih besar (n=145) dibandingkan dengan kelompok sofosbuvir-ledipasvir (n=69). Dalam analisis statistik, peningkatan jumlah sampel dapat memengaruhi hasil dan meningkatkan kemungkinan deteksi perbedaan yang kecil antarkelompok. Tiga pasien yang gagal mencapai SVR-12 memiliki HCV genotipe 3. Hepatitis C Virus Therapeutic Registry and Research Network (HCV-TARGET) melaporkan bahwa HCV genotipe 3 masih menjadi tantangan untuk diobati, terutama pada pasien dengan sirosis.14 Genotipe 3 merupakan genotipe yang unik di antara genotipe-genotipe virus hepatitis C karena memiliki angka steatosis yang lebih tinggi, perkembangan fibrosis yang lebih cepat, dan 186| Jurnal Penyakit Dalam Indonesia | V o l . 10, No. 4 | Desember 2 0 2 3 Andri S. Sulaiman, Irsan Hasan, C.R.A Lesmana, Juferdy Kurniawan, Gita Aprilicia,Yayah Nugroho, Nunuk Tri Wahyuni, Budiman S. Sulaiman Tabel 1. Parameter demografis dan klinis awal pasien hepatitis C Variabel Sofosbuvir-ledipasvir (n=69) Sofosbuvir-daclatasvir (n=145) Nilai p Usia (tahun), rerata (SB) 51,1 (15,66) 51,9 (14,82) 0,696 Pria, n (%) 40 (58,0) 94 (64,8) 0,413 Terapi, n (%) Pengobatan terdahulu 20 (29) 24 (16,6) 0,055 Naif 49 (71) 121 (83,4) Durasi pengobatan, n (%) 24 minggu 9 (13) 38 (26,2) 0,046 12 minggu 60 (87) 107 (73,8) Sirosis, n (%) 26 (37,7) 41 (28,3) 0,219 Kekakuan hati (kPa), median (RIK) 11,80 (3,60 – 49,70) 12,30 (5,2 – 37,4) 0,149 Diabetes melitus, n (%) 6 (8,7) 10 (6,9) 0,850 Koinfeksi HIV, n (%) 1 (1,4) 14 (9,7) 0,056 Karakteristik dasar virus hepatitis C HCV RNA awal, median (RIK) 1,14 x 106 (1,43 x 102 – 4,39 x 107) 3,67 x 105 (1,29 x 103 – 1,49 x 108) 0,639 GenotIpe, n (%) 1/1a/1b/1c 11 (15,9)/ 12 (17,4)/ 20 (29)/ 1 (1,4) 28 (19,3)/ 32 (22,1)/ 33 (22,8)/ 5 (3,4) 0,062 2/ 2a/ 2c 4 (5,8%) / - / - 4 (2,8)/ 3 (2,1)/ 1 (0,7) 3 / 3a / 3f / 3k 5 (7,2)/ 1 (1,4)/ - / - 9 (6,2)/ 6 (4,1)/ 1 (0,7)/ 5 (3,4) 4/4a/4c/4h 4 (5,8)/ 2 (2,9)/ 1 (1,4) 1 (0,7)/ - / - / 3 (2,1) Indeterminan 8 (11,6) 8 (5,5) Tidak diketahui - 6 (4,1) Karakteristik dasar laboratorium Trombosit, rerata (SB) 200 (66,53) 103/μL 171 (94,14) 103/μL 0,145 Bilirubin, median (RIK) 0,70 (0,10 – 4,05) mg/dL 0,82 (0,16 – 4,41) mg/dL 0,583 SGOT, median (RIK) 68 (12 – 336) U/L 53 (20 – 245) U/L 0,097 SGPT, median (RIK) 69 (7 – 327) U/L 47 (3 – 204) U/L 0,173 Kreatinin, rerata (SB) 0,92 (0,24) mL/min 0,92 (0,27) mL/min 0,269 Albumin, median (RIK) 4,20 (2,6 – 4,9) g/dL 4,23 (2,5 – 5,0) g/dL 0,880 Luaran terapi SVR-12, n (%) Ya 69 (100) 142 (97,9) 0,561 Tidak 0 (0) 3 (2,1) SB= simpang baku; RIK= rentang interkuartil Gambar 1. Tingkat SVR-12 berdasarkan genotipe virus hepatitis C Rerata SVR-12 (%) 187Jurnal Penyakit Dalam Indonesia | V o l . 10, No. 4 | Desember 2 0 2 3| Kombinasi Sofosbuvir-Ledipasvir dan Sofosbuvir-Daclatasvir pada Pengobatan Pasien Hepatitis C di Indonesia angka kesembuhan yang lebih rendah.15 Dalam penelitian ini, efektivitas SOF/DCV pada pasien hepatitis C genotipe 3 lebih rendah dibandingkan dengan obat paduan SOF/ LDV (3/21 pasien genotipe-3 yang diobati dengan SOF/ DCV tidak dapat mencapai SVR-12). Salah satu dari pasien yang mengalami kegagalan terapi pada pasien dengan genotipe 3 adalah pasien dengan koinfeksi HIV. Koinfeksi HIV dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi respons pengobatan. Pasien dengan koinfeksi HIV memiliki karakteristik klinis yang berbeda akibat adanya kondisi imunosupresif yang dapat memengaruhi respons pengobatan. Regimen SOF/LDV dapat digunakan sebagai terapi alternatif di Indonesia ketika sofosbuvir velpatasvir (SOF/VEL) masih terbatas. European Association for the Study of the Liver (EASL) telah merekomendasikan SOF/LED sebagai terapi obat paduan untuk genotipe 1, 4, 5, dan 6.16 Meskipun demikian, penelitian Dar17 yang melakukan evaluasi SOF/ LDV pada pasien dengan genotipe 3 memperoleh hasil bahwa SVR-12 rate masih cukup baik, yaitu pada pasien non-sirosis genotipe 3 mencapai 96%, sementara pada pasien sirosis genotipe 3 sebesar 75%. Selain itu, studi meta-analisis pada 12 studi dengan 711 pasien yang diberikan terapi SOF/LED menyebutkan bahwa pooled SVR-12 rate sebesar 89,8% (IK95%; 85,9 – 92,7%), dengan rincian SVR-12 per genotipe 1, 2, 3, 4, 6 ialah 92,4%, 90%, 80,9%, 81,0%, dan 75,0%.18 Dalam penelitian ini, peneliti memberikan pengobatan SOF/LED kepada seluruh pasien di klinik hati tanpa mempertimbangkan variasi genotipe karena saat itu satu-satunya opsi obat yang tersedia adalah SOF/LED. Sofosbuvir diperkenalkan di Indonesia pada tahun 2016 melalui program akses khusus. Kombinasi SOF/ LED diperkenalkan pertama kali, kemudian diikuti dengan alternatif pilihan pengobatan menggunakan SOF/DCV yang tersedia untuk berbagai genotipe virus di Indonesia. Durasi pengobatan untuk kombinasi sofosbuvir- ledipasvir tergantung pada keberadaan sirosis dan tingkat keparahannya. Berdasarkan panduan tata laksana pengobatan hepatitis C, durasi pengobatan 12 minggu diberikan pada pasien yang mengalami sirosis kompensata. Sementara itu, durasi pengobatan diperpanjang hingga 24 minggu pada pasien yang mengalami sirosis dekompensata. Di antara 26 pasien sirosis dalam kelompok yang diobati dengan SOF/LED, 17 orang menerima terapi selama 12 minggu, sedangkan 9 pasien lainnya menjalani obat paduan pengobatan selama 24 minggu. Perbedaan ini disebabkan oleh kendala finansial yang dihadapi oleh beberapa pasien dalam mendapatkan obat sofosbuvir- ledipasvir. Pada saat diperkenalkan di pasar Indonesia, harga sofosbuvir adalah Rp 6.000.000,00 untuk satu paket berisi 30 tablet. Bagi pasien yang tidak dapat menjalani pengobatan selama 24 minggu dengan alasan ketidakmampuan biaya, maka rencana pengobatan pasien disesuaikan menjadi 12 minggu. Durasi terapi hepatitis C merupakan aspek penting yang perlu dipertimbangkan pada pasien yang menjalani pengobatan hepatitis C. Terapi kombinasi SOF/LED dan SOF/DCV memberikan dua pilihan durasi pengobatan, yaitu 12 minggu dan 24 minggu. Pada saat mengelola pasien hepatitis C dengan durasi terapi yang diperpanjang, salah satu aspek penting yang perlu dipertimbangkan adalah masalah biaya. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan di Jerman mengenai efektivitas biaya dari berbagai kombinasi DAA, kombinasi SOF/LDV masih menjadi terapi dengan biaya paling rendah dibandingkan dengan modalitas terapi lainnya.19 Di Indonesia, SOF/LDV memiliki biaya yang lebih terjangkau dibandingkan dengan SOF/DCV. Biaya SOF/LDV adalah Rp6.000.000,00, sedangkan SOF/DCV tersedia dengan harga Rp 7.000.000,00. Meskipun saat ini tersedia pengobatan SOF/DCV yang diberikan secara gratis oleh Kementrian Kesehatan RI di jejaring rumah sakit pemerintah, namun ketersediaan stok obat ini tidak selalu terjamin dan membutuhkan daftar tunggu antrian obat. Aspek lain yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan terapi adalah sediaan obat. Saat ini, hanya kombinasi SOF/LDV dan SOF/VEL yang tersedia dalam bentuk tablet tunggal. Sebaliknya, SOF/DCV tersedia dalam bentuk terpisah (dua tablet).20 Perbedaan ini dapat berdampak pada kepatuhan pasien selama pengobatan jangka panjang. Selain itu, penggunaan dua tablet dapat menimbulkan masalah seperti variasi tanggal kedaluwarsa yang berpotensi memengaruhi ketersediaan obat. Pemberian terapi SOF/LDV untuk pasien di Indonesia merupakan pertimbangan yang layak mengingat efektivitas yang baik dari kombinasi ini. Adapun faktor pendukung lainnya adalah estimasi biaya yang lebih rendah dibandingkan obat paduan lain. Penelitian ini masih memiliki beberapa keterbatasan, yaitu adanya perbedaan durasi pengamatan 12 minggu dan 24 minggu yang diamati pada kelompok SOF/LDV, hal ini tidak sesuai dengan konsensus tata laksana pengobatan hepatitis C disebabkan keterbatasan biaya. Penelitian ini juga memiliki ukuran sampel terbatas dan mayoritas pasien mempunyai genotipe 1. Hal ini bisa mengurangi keseluruhan generalisasi efektivitas pengobatan DAA untuk genotipe lain yang mungkin kurang terwakili. Selain itu, terdapat variasi karakteristik pasien yang tidak dapat dikontrol lebih lanjut menggunakan analisis multivariat karena ukuran sampel yang terbatas. 188| Jurnal Penyakit Dalam Indonesia | V o l . 10, No. 4 | Desember 2 0 2 3 Andri S. Sulaiman, Irsan Hasan, C.R.A Lesmana, Juferdy Kurniawan, Gita Aprilicia,Yayah Nugroho, Nunuk Tri Wahyuni, Budiman S. Sulaiman SIMPULAN Pada penelitian ini, SOF/LDV efektif bagi semua pasien hepatitis C dengan beragam genotipe dan biaya penggunaan SOF/LDV lebih terjangkau bagi pasien di negara-negara berkembang dibandingkan dengan rejimen SOF/DCV. DAFTAR PUSTAKA 1. World Health Organization. Global hepatitis report 2017. Geneva: World Health Organization; 2017. 2. Jefferies M, Rauff B, Rashid H, Lam T, Rafiq S. Update on global epidemiology of viral hepatitis and preventive strategies. World J Clin Cases. 2018;6(13):589–99. 3. Echeverría N, Moratorio G, Cristina J, Moreno P. Hepatitis C virus genetic variability and evolution. World J Hepatol. 2015;7(6):831– 45. 4. Irekeola AA, Malek NA, Wada Y, Mustaffa N, Muhamad NI, Shueb RH. Prevalence of HCV genotypes and subtypes in Southeast Asia: A systematic review and meta-analysis. PLoS One. 2021;16(5):e0251673. 5. Juniastuti J, Wibowo BP, Wibawa IDN, Utsumi T, Mustika S, Amin M, et al. Interleukin-28B polymorphisms and response of chronic hepatitis C patients from Indonesia to pegylated interferon/ ribavirin treatment. J Clin Microbiol. 2014;52(6):2193–5. 6. Yau AHL, Yoshida EM. Hepatitis C drugs: The end of the pegylated interferon era and the emergence of all-oral, interferon-free antiviral regimens: a concise review. Can J Gastroenterol Hepatol. 2014;28(8):445–51. 7. Smith-Palmer J, Cerri K, Valentine W. Achieving sustained virologic response in hepatitis C: A systematic review of the clinical, economic and quality of life benefits. BMC Infect Dis. 2015;16(2):188-97. 8. Charatcharoenwitthaya P, Wongpaitoon V, Komolmit P, Sukeepaisarnjaroen W, Tangkijvanich P, Piratvisuth T, et al. Real- world effectiveness and safety of sofosbuvir and nonstructural protein 5A inhibitors for chronic hepatitis C genotype 1, 2, 3, 4, or 6: A multicentre cohort study. BMC Gastroenterol. 2020;20(1):1–15. 9. Manns MP, Maasoumy B, Rice CM. Breakthroughs in hepatitis C research: from discovery to cure. 2022;19(8):533–50. 10. Hasan I, Lesmana L, Sulaiman A, Akbar N, Gani RA, Soemarno S, et al. Efficacy and safety of in-Asia-manufactured interferon alpha-2b in combination with ribavirin for therapy of naïve chronic hepatitis C Patients: A multicenter, prospective, open-label trial. Indones J Gastroenterol Hepatol Dig Endosc. 2009;10(1):7–13. 11. Utama A, Tania NP, Dhenni R, Gani RA, Hasan I, Sanityoso A, et al. Genotype diversity of hepatitis C virus (HCV) in HCV-associated liver disease patients in Indonesia. Liver Int. 2010;30(8):1152–60. 12. Kurniawan J, Gani RA, Hasan I, Sulaiman AS, Lesmana CRA. Comparative efficacy of sofosbuvir-ribavirin versus sofosbuvir- daclatasvir for treatment of chronic hepatitis C in an area with limited NS5A inhibitor availability. Indian J Gastroenterol. 2019;37(6):520-5. 13. Rezaee-Zavareh M, Hesamizadeh K, Behnava B, Alavian S, Gholami- Fesharaki MSH. Combination of ledipasvir and sofosbuvir for treatment of hepatitis C virus genotype 1 infection: systematic review and meta-analysis. Ann Hepatol. 2017;16(2):188-97. 14. Feld JJ, Maan R, Zeuzem S, Kuo A, Nelson DR, Di Bisceglie AM, et al. Effectiveness and safety of sofosbuvir-based regimens for chronic HCV genotype 3 infection: results of the HCV-TARGET Study. Clin Infect Dis. 2016; 63(6):776–83. 15. Chan A, Patel K, Naggie S. Genotype 3 infection: the last stand of hepatitis C virus. Drugs. 2017;77(2):131–44. 16. Pawlotsky JM, Negro F, Aghemo A, Berenguer M, Dalgard O, Dusheiko G, et al. EASL recommendations on treatment of hepatitis C: Final update of the series. J Hepatol. 2020;73(5):1170–218. 17. Dar GA, Yattoo GN, Gulzar GM, Sodhi JS, Gorka S, Laway MA. Treatment of chronic hepatitis C genotype 3 with ledipasvir and sofosbuvir: an observational study. J Clin Exp Hepatol. 2021;11(2):227–31. 18. Yang X, Tang Y, Xu D, Zhang G, Xu P, Tang H, et al. Efficacy and safety of ledipasvir/sofosbuvir for hepatitis C among drug users: a systematic review and meta-analysis. Virol J. 2021;18(1):1–13. 19. Stahmeyer JT, Rossol S, Liersch S, Guerra I, Krauth C. Cost- effectiveness of treating hepatitis c with sofosbuvir/ledipasvir in Germany. PLoS One. 2017;12(1):1–18. 20. Diana G, Gregory H. Ledipasvir/sofosbuvir (Harvoni): Improving options for hepatitis C virus infection. P T. 2015;40(4):256–76.

Medicine (General)
DOAJOpen Access2023

LITERATURE REVIEW PENGARUH EFIKASI DIRI, MONITORING ORANGTUA, PENGETAHUAN TERHADAP PENCEGAHAN HIV REMAJA

MAYA NISA RAHMAWATI, Noveri Aisyaroh, Kartika Adyani

Professional Health Journal · PPPM STIKES Banyuwangi

Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menginfeksi sel darah putih yang menyebabkan turunnya kekebalan tubuh manusia. Masa peralihan ketika remaja ingin mencoba sesuatu yang baru, seperti seks pranikah, yang akhirnya mengarah pada seks berisiko. Banyaknya kasus HIV/AIDS pada populasi remaja kita memerlukan peninjauan ulang terhadap pola perilaku seksual remaja karena HIV/AIDS pada kenyataannya lebih banyak menyebar melalui aktivitas seksual. Tujuan peneliti tertarik untuk melakukan penelitian sesuai dengan studi literatur untuk mengetahui pengaruh efikasi diri, monitoring orang tua, pengetahuan remaja terhadap pencegahan hiv pada remaja. Desain penelitian ini menggunakan Literature Review, kriteria inklusi yaitu terbitan dalam 10 tahun terakhir buku yaitu tahun 2012-2022 dan untuk jurnal terbitan 5 tahun terakhir yaitu tahun 2017-2022, pencarian artikel menggunakan teknik snowballing. Dalam penelitian ini pengumpulan data dalam studi literatur ini menggunakan data based dalam mencari sumber literatur yaitu Google Scholar terdapat 4 artikel dan Pubmed terdapat 6 artikel. Berdasarkan literature review hasil penelitian diatas peneliti disimpulkan bahwa efikasi diri, pengawasan orang tua, dan pengetahuan remaja berperan penting dalam meningkatkan pencegahan penyakit HIV pada remaja.

Nursing
CrossrefDOAJOpen Access2023

Potensi terapi berbasis siRNA untuk knockdown HIV-1 conserved region sebagai terapi HIV/AIDS: Tinjauan sistematik

Oda Rivana, Ali Santosa, Ayu Munawaroh

Nautical : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia · Arka Institute

Human immunodeficiency virus merupakan patogen yang dapat menyerang sistem imun manusia, sedangkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan kondisi imunosupresif karena infeksi HIV. Saat ini, kombinasi ART (Antiretroviral Therapy) adalah terapi andalan HIV. Pengobatan saat ini masih menemui beberapa kendala, sehingga peneliti mencari alternatif lain dalam mengatasi HIV/AIDS. Ada beberapa penelitian yang membahas mengenai terapi HIV/AIDS berbasis siRNA dengan hasil yang bagus. Oleh karena itu, peneliti tertarik melakukan tinjauan sistematik untuk mengetahui secara keseluruhan terapi HIV/AIDS yang memiliki hasil lebih baik dalam mengatasi HIV/AIDS. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui terapi berbasis siRNA untuk knockdown HIV-1 conserved region sebagai terapi HIV/AIDS dapat menurunkan viral load dan/atau meningkatkan sel CD4+. Artikel diseleksi menggunakan metode PRISMA (Preferred Reporting Items for Systemic Reviews and Meta-Analyses). Artikel ditinjau dengan prinsip kerangka PICOS (Participants, Interventions, Comparisons, Outcomes, and Study design). Pencarian artikel didapatkan dari empat basis data yaitu: PubMed, Science Direct, Nature, dan Springer Link. Outcome yang dinilai adalah penurunan viral load dan/atau peningkatan jumlah sel CD4+ dinilai dengan SYRCLE tools. Penelitian-penelitian yang diinklusi merupakan experimental studies in vivo menggunakan hewan coba tikus dan monyet rhesus dengan karakteristik yang berbeda-beda pada setiap penelitian. Hewan coba diintervensi terapi siRNA untuk knockdown HIV-1 conserved region dengan kontrol negatif (placebo) dan/atau kontrol positif (ARV). Semua penelitian yang diinklusi menunjukkan hasil yang signifikan dengan p-value &lt;0,05 dalam menurunkan viral load dan meningkatkan jumlah sel CD4+.

Crossref2022

ANALISA FAKTOR-FAKTOR KEBERHASILAN ZIDOVUDIN TERHADAP PENCEGAHAN VIRUS HIV PADA BAYI IBU HIV DI RSUD GENTENG

Yayuk Mundriyastutik, Sukarmin Sukarmin, Sulikanah Sulikanah

Indonesia Jurnal Kebidanan · Universitas Muhammadiyah Kudus

ABSTRAKPenularan HIV kepada anak yang secara teori di kontribusikan dari proses penularan dari ibu ke anak. Penggunaan zidovudin dalam terapi HIV/AIDS cukup banyak digunakan. Menurut WHO, lini pertama penatalaksanaan HIV/AIDS adalah kombinasi satu macam Non-nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NNRTI) dan dua macam Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NRTI), satu diantaranya haruslah zidovudin.Desain penelitian yang digunakan adalah analitik korelasi, menggunakan pendekatan cross sectional, pada penelitian ini populasinya adalah bayi dengan ibu HIV pada tahun 2020 di Rumah Sakit Genteng sebanyak 28 pasien, dengan menggunakan teknik Accidental sampling, untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel dilakukan uji statistik Chi Square dengan tingkat signifikansi 0,05.Hasil penelitian yang diperoleh hasil hubungan antara umur lahir bayi mendapatkan hasil nilai Chi Square hitung 11.667 &gt; 3.841 Chi Square tabel. berat badan lahir bayi mendapatkan hasil nilai Chi Square hitung 2.263 &lt; 3.841 Chi Square tabel. Kepatuhan minum obat Zidovudine mendapatkan hasil nilai Chi Square hitung 18.200 &gt; 5.991 Chi Square tabel dengan keberhasilan terapi Zidovudine pada bayi ibu HIV di RSUD Genteng. Sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan antara umur bayi dan kepatuhan minum obat Zidovudine dengan keberhasilan terapi Zidovudine, dan tidak terdapat hubungan berat badan lahir bayi dengan keberhasilan terapi Zidovudine. Sedangkan faktor yang peling berpengaruh adalah faktor kepatuhan dalam minum obat Zidovudine dengan hasil Chi Square hitung paling besar.Pada dasarnya penularan HIV dari ibu dapat dicegah dengan obat Zidovudine. Namun keberhasilan juga dipengaruhi oleh faktor lain diantaranya umur lahir bayi dengan kepatuhan minum obat Zidovudine.

DOAJOpen Access2021

Penguatan Intervensi Perilaku terhadap Pencegahan HIV pada Kelompok Berisiko: Sistematik Review

Suarnianti Suarnianti, Yusran Haskas

Jurnal Kesehatan Andalas · Faculty of Medicine at Universitas Andalas

Intervensi perilaku sangat penting dilakukan dalam pencegahan HIV sebagai intervensi dalam upaya meningkatkan status kesehatan. Tujuan: Mengetahui bentuk intervensi perilaku untuk mengukur outcome dari pencegahan terjadinya HIV terutama pada kelompok berisiko. Metode:  Electronic database dari jurnal yang telah dipublikasikan melalui ProQuest, PubMed., dan ScienceDirect. Hasil: Review dari delapan jurnal yang telah dipilih menyatakan bahwa intervensi perilaku memberi pengaruh terhadap peningkatan pengetahuan tentang HIV/AIDS, konseling bagi kelompok dengan rIsiko tinggi seperti pada Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) dan juga pelaksanaan tes HIV atau yang dikenal dengan Voluntary Counseling and Testing (VST). Instrumen penelitian yang  digunakan untuk mengukur behavioral intervention pada penelitian kuantitaif yakni kuesioner, instrumen berbasis komputer dan internet seperti sosial media, sedangkan pada penelitian kualitatif menggali informasi dengann indepth interview dan Focus Group Discussion (FGD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan intervensi perilaku dalam pencegahan HIV memberi manfaat dalam peningkatan pengetahuan, persepsi dan perilaku pencegahan HIV positif, serta penurunan stigma bagi ODHA. Simpulan: Penguatan intervensi perilaku dapat mencegah terjadinya HIV pada kelompok berisiko sehingga dapat meningkatkan derajat kesehatan. Kata kunci: intervensi perilaku, pencegahan HIV, LSL

MedicineMedicine (General)
DOAJOpen Access2021

The Potential of eCD4-Ig, Delivered by Adeno-Associated Virus (AAV) Vector as a Novel Vaccine for HIV/AIDS Infection

Ghea Mangkuliguna

Scripta Score Scientific Medical Journal · Talenta Publisher

Background: HIV/AIDS has already become one of the world's major health issues taking its toll on millions of lives each year. Developing an HIV vaccine with excellent efficacy has become a global urgency that must be addressed immediately. Recently, researchers have successfully developed a more self-like molecule which is a fusion protein between human CD4 domains and immunoglobulin G (IgG) Fc with a CCR5-mimetic sulfopeptide in the carboxy terminus. This molecule, eCD4-Ig, targets only the conserved regions of HIV Env and thus demonstrated the most remarkable potency and breadth so far. By using adeno-associated virus (AAV) vector, eCD4-Ig’s long-term expression in vivo can be achieved. Objectives: Evaluate the efficacy of AAV-eCD4-Ig as both preventive and therapeutic vaccine for HIV/AIDS infection. Methods: A systematic literature study was conducted with the database in PubMed, ScienceDirect, and Proquest. No time and language restriction were applied. Discussion: This review shows that eCD4-Ig eliminates HIV-infected cells through neutralization and antibody-dependent cell-mediated cytotoxicity (ADCC). Moreover, eCD4-Ig is also capable of preventing HIV infection in vivo. Delivered with AAV, eCD4-Ig is maintained stably at both protective and therapeutic levels, as well as gives robust protection for rhesus macaques for almost a year long through a single injection. Conclusion: This study offers evidences that AAV-eCD4-Ig appears to have the potential to be an effective vaccine to prevent HIV infection. Keywords: AAV, AIDS, eCD4-Ig, HIV, vaccine   Latar Belakang: Pengembangan vaksin HIV yang efektif menjadi sangat penting mengingat tingginya angka kematian yang ditimbulkan oleh HIV/AIDS. Beberapa tahun terakhir, peneliti berhasil menemukan sebuah molekul yang tersusun atas domain CD4 manusia, immunoglobulin G (IgG) Fc, dan sulfopeptida yang menyerupai CCR5. Molekul yang dinamakan eCD4-Ig ini menargetkan area konservatif dari HIV Env sehingga berpotensi untuk menjadi vaksin HIV yang efektif. Ekspresi eCD4-Ig akan dipertahankan menggunakan Adeno-associated Virus Vector (AAV). Tujuan: Evaluasi efektivitas AAV-eCD4-Ig sebagai vaksin untuk HIV/AIDS. Metode: Penelitian dilakukan dengan melakukan tinjauan pustaka dari beberapa database jurnal, yakni PubMed, ScienceDirect, dan Proquest tanpa ada batasan waktu dan bahasa. Pembahasan: eCD4-Ig membunuh sel-sel yang terinfeksi HIV melalui proses netralisasi dan antibody-dependent cell-mediated cytotoxicity (ADCC). eCD4-Ig juga memberikan perlindungan terhadap infeksi HIV. Ekspresi AAV-eCD4-Ig sangat stabil untuk dosis protektif dan terapeutik, sekaligus melindungi rhesus macaques dari infeksi HIV selama hampir 1 tahun lamanya hanya dengan sekali injeksi. Kesimpulan: AAV-eCD4-Ig memiliki potensi yang menjanjikan untuk menjadi vaksin HIV yang efektif bagi seluruh penderita HIV/AIDS di seluruh dunia. Kata Kunci: AAV, AIDS, eCD4-Ig, HIV, vaksin

Medicine (General)
DOAJOpen Access2019

Pengantar

Redaksi Jurnal Filsafat

Jurnal Filsafat · Universitas Gadjah Mada

Pembaca yang Budiman, Artikel pertama pada Jurnal Filsafat Volume  29  Nomor 1 Februari  2019 ini  ditulis oleh  Dian Dwi Jayanto, yang membahas  tentang fenomenapopulisme Islam di Indonesia, yang belakangan  ini menarik perhatian publik.Melalui tulisan ini, Jayanto menawarkan sebuah pembacaan terhadap fenomena populisme di Indonesia dalam perspektif diskursif, dengan memilih studi kasus  pada kontestasi  wacana politik antara Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-Ulama) dan Nahdlatul Ulama (NU). Artikel kedua, memaparkan hasil analisis tentang implementasi keadilan sosial Pancasila pada populasi anak penyandang HIV/AIDS  di Yogyakarta, yang dilakukan oleh tim peneliti: Moch Najib Yuliantoro, Rizky Ananda Sigit Nugraha,Aisyah Abbas, Rona Utami, dan Supartingsih.Melalui tulisan ini, para penulisnya berupaya  untuk memberikan informasi ilmiah tentangkonstruksi teoritik konsep keadilan sosialPancasila, peta persoalan implementasi keadilan sosial Pancasila pada anak penderita HIV/AIDS  di Yogyakarta, serta pandangan anak penderita HIV/AIDS  terhadap apa yang dianggap berkeadilan sosial. Penulis ketiga, Mulyadi, menyajikan hasil risetnya terhadap pemikiran  Abdul Karim Sorosh tentang pemerintahan, demokrasi, dan interpretasi agama. Mulyadi, menyimpulkan bahwa  Abdul Karim Soroush berusaha menawarkan solusi dan memulihkan filsatat-keagamaan, pemerintahan dan demokrasi di tengah pergulatan identitas dan wacana pemikiran di dunia Islam khususnya di kancah peradaban dan kebudayaan Iran, dari kritis identitas, keterpurukan psikologis, hingga dislokasi ontologis yang telah mengaburkan otentisitas eksistensial masyarakat. Mulyadi juga  menjelaskan mengapa Abdul Karim Soroush menghendaki adanya arah baru dalam diskursus teologi dan politik Islam, khususnya di Iran, yang ditopang oleh pelbagai wacana filosofis.  Pada artikel keempat  disajikan  tulisan Ricardo Freedom Nanuru  yang bertajuk “Orom Sasadu:Hakikat dan Maknanya Bagi Masyarakat Suku Sahu di Halmahera Barat, Maluku Utara. Di sini Nanuru  menyimpulkan bahwa tradisi Orom Sasadupaling tidak memiliki 5 (lima) makna, yaitu: menjadi ajang penegakkan nilai-nilai yang terkandung dalam aturan yang berujung kedamaian; mempertegas relasi sosial persaudaraan; mempertegas struktur sosial yang mengayomi; ajang pendidikan nilai moral bagi masyarakat; serta mempertegas pola hubungan manusia khususnya masyarakat suku Sahu dengan lingkungan alamnya. Penulis selanjutnya, Syarif Hidayatullah,  memaparkan hasil kajiannya tentang  pola-pola relasi dan  aspek metodologis  dalam  diskursus relasi agama dan sains di era modern. Menurut Hidayatullah,  kendatipun antara sains dan agama merupakan dua entitas yang berbeda sebagai sumber pengetahuan dan  sumber nilai bagi kehidupan manusia, namun hubungan keduanya sangatlah dinamis, dari model  relasi yang serba konflik dan kontras, saling independen, berdialog dan saling bertitik-sentuh (conversation) serta bersesuaian (compatible), hingga saling konfirmasi dan integrasi serta  harmonis. Sedangkan dari aspek motodologis, keduanya memiliki kemiripan pada hal-hal tertentu, seperti yang berkaitan dengan pengalaman dan interpretasi, peran komunitas dan analogi serta model, yang tentu saja akan selalu ada perbedaan-perbedaan unik di antara keduanya.  Zummy  Anselmus Dami, yang menjadi penulis artikel keenam pada edisi ini, memaparkan hasil  analisisnya tentang pedagogi shalom dengan menggunakan  perspektif pedagogi kritis Henry A. Giroux untuk dikaji bagaimana relevansinya bagi pendidikan kristen di Indonesia. Menurut simpulan Dami, kehadiran pedagogi shalom untuk memperkuat fondasi dan memperkaya dasar teori pedagogi kritis agar tidak  terkesan keberpihakan kepada aktivisme, tanpa ada rekonsiliasi dan juga agar terkesan arogan sebagai gerakan sosial dan kritik kepada kekuasaan tapi tanpa didasarkan kasih. Tujuan utama yang ingin dicapai adalah perubahan sosial dan politik yang lebih baik, sehingga masyarakat dapat menikmati kehidupan yang adil, bebas, merata dan makmur.  Akhirnya, selamat  membaca dan menuai manfaat dari artikel-artikel yang tersaji pada edisi ini (ESHA).

Philosophy (General)
Crossref2019

Pregnant Women's Perception about HIV/AIDS with the Implementation of HIV Tests

Ayuk Widiani, JDM Sriwitati

JURNAL KEBIDANAN · Poltekkes Kemenkes Semarang

One of the infectious diseases that is being talked about is HIV / AIDS, an infectious disease caused by infection with the Human Immunodeficiency Virus. The number of new cases of HIV / AIDS in Indonesia tends to fluctuate. The purpose of this study was to determine the relationship between perceptions of pregnant women about HIV / AIDS with the implementation of the HIV test. The design of this study was questionnaire based survey with cross sectional approach, to determine the factors that influence the implementation of HIV test in pregnant women. The population in this study were all pregnant women in the working area of Puskesmas II Denpasar Barat, amounting to 573 people and a sample of 82 people. The sampling technique used was consecutive sampling. Chi Square statistical test and Logistic Regression were applied for bivariate and multivariate analysis respectively. The results showed that there was a relationship between the perception of vulnerability of pregnant women about HIV / AIDS and the implementation of the HIV test (p = 0.002), there was a relationship between the perception of the severity of pregnant women and the HIV test (p = 0.019), HIV test (p = 0.006), there was a relationship between the perception of obstacle for pregnant women and the implementation of the HIV test (p = 0.009), the most dominant variable associated with the implementation of the HIV test was perception of vulnerability (p = 0.004, OR: 5.885, 95% CI 1,776-19,493). There is significant relationship between perception with HIV testing and vulnerability perception is the most dominant variable affecting HIV testing. The results of this study it is recommended to increase health promotion related to the implementation of HIV testing and its benefits so that pregnant women are willing to carry out HIV testing.

Crossref2019

HUBUNGAN KAMPANYE PENCEGAHAN HIV AIDS TERHADAP SIKAP PADA PENDERITA HIV/AIDS (ODHA) DI PANGANDARAN (STUDI PADA PELAJAR SMA DI PANGANDARAN)

Ikhsan Fuady, Ditha Prasanti

Jurnal Mediasosian : Jurnal Ilmu Sosial dan Administrasi Negara · Universitas Kediri

AbstrakPangandaran sebagai kawasan destinasi wisata menjadi tempat yang rentan penyebaran HIV AIDS. Kegiatan kampanye pencegahan HIV AIDS menjadi hal yng sangat penting dilakukan. Berbagai fihak telah melakukan kegiatan kampenye penceghn penyebaran HIV AIDS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana hubungan antara terpaan kampanye pencegahan HIV AIDS dengan pembentukan sikap kepedulian terhadap penderita HIV AIDS. Pendelitian ini didesan dengan penelitian kuantitatif dengan pendekatan survey. Populasi dan sampel peneitian ini adalah siswa SMA di Pangandaran. Adapun analsis data dilakukan dengan uji korelasi pearson.  Hasil penelitian diketahui bahwa Siswa atau pelajar sebahagian besar relatif sering terkena terpaan kampanye melalui speanduk, poster dan whatapps, sedangkan media elektronik tv dan radio relatif jarang.Adanya hubungan yang kuat antara terpaan kampanye dengan sikap peduli terhdap penderita HIV AIDS.Disarankan diperlukan peningkatan edukasi atau pendampingan bagi remaja tentang pencegahan HIV AIDS banik dalam kampanye langsung ataupun bermedia dalam upaya membangun sikap yang positif dan akhirnya akan memiliki perilaku yang dapat menghindari dari HIV AIDS. Selain itu sikap yang positif juga dapat membangun kepedulian terhadap penderita HIV AIDS.Kata Kunci:kampanye, HIV AIDS, sikap

Crossref2018

PENGELOLAAN PASIEN HIV/AIDS

Yulia Ardiyanti, Livana PH

Jurnal Perawat Indonesia · Persatuan Perawat Nasional Indonesia Jawa Tengah

AbstrakPerawat pelaksana merupakan kunci keberhasilan dalam pengelolaan pasien HIV/AIDS untuk mewujudkan pelayanan keperawatan yang bermutu dan profesional. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengelolan pasien HIV/AIDS di RSUD dr. H. Soewondo Kendal. Penelitian dengan sampel 58 orang ini menggunakan rancangan deskriptif dengan pendekatan cross sectional dan uji normalitas data hasil penelitian menggunakan uji Kolmogorov Smirnov. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pengelolaan pasien HIV/AIDS oleh perawat pelaksana di RSUD dr. H. Soewondo Kendal sebagian besar berada pada kriteria baik yaitu sebanyak 53,4%. Perlu ditingkatkan pengetahuan perawat tentang Universal Precaution dan pengendalian penyakit infeksi  serta lebih meningkatkan rasa caring pada pasien dari pasien HIV/AIDS. Kata kunci: HIV/AIDS, pengelolaan pasien AbstractThe management of HIV / AIDS patients. Advocation nurses are the key to success in the management of HIV / AIDS patients to realize quality and professional nursing services. The purpose of this study was to determine the description of the management of HIV / AIDS patients in RSUD dr. H. Soewondo Kendal. The study with a sample of 58 people used a descriptive design with a cross sectional approach and the normality test of the results of the study using the Kolmogorov Smirnov test. The results of the study showed that the management of HIV / AIDS patients by implementing nurses in RSUD dr. H. Soewondo Kendal is mostly in good criteria, namely 53.4%. Nurses need to improve their knowledge about Universal Precaution and control of infectious diseases and further increase the sense of caring in patients from HIV / AIDS patients. Keywords: HIV/AIDS, Management of patients

Crossref2017

HIV pada Geriatri HIV in Geriatrics

Nur Ainun, Evy Yunihastuti, Arya Govinda Roosheroe

Jurnal Penyakit Dalam Indonesia · Universitas Indonesia, Directorate of Research and Public Service

Jumlah pasien HIV yang berusia lanjut semakin bertambah dikarenakan angka kesintasan pasien yang meningkat dan infeksi HIV pada pasien usia lanjut. Populasi pasien tersebut membutuhkan penatalaksaan tersendiri dikarenakan terdapat sejumlah komorbid baik yang berhubungan dengan HIV maupun tidak, polifarmasi, penurunan kapasitas fungsional dan isu sosial.Kata kunci: geriatri, HIV, komorbid, kronik, penuaanHIV in GeriatricsThrough both prolonged survival and late acquisition of the disease, numbers of older adults with HIV are climbing. Along with ageing process is an accumulation of HIV-associated non-AIDS related comorbidities, creating a complex patient group affected by multi-morbidity along with polypharmacy, functional decline and social issues. Keywords: ageing, chronic, comorbidity, geriatrics, HIV

DOAJOpen Access2015

Daftar Isi Jurnal Keperawatan Vol.4. No.1, Januari 2013

Daftar Isi

Jurnal Keperawatan · Universitas Muhammadiyah Malang

Daftar Isi Jurnal Keperawatan Vol.4. No.1, Januari 2013     Pengaruh Stigma HIV pada Ibu yang Memiliki Anak dengan HIV/AIDS Terhadap Keterbukaan pada Keluarga Aini Alifatin 01 – 10   Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Diet dengan Perilaku Kepatuhan Melaksanakan Diet pada Pasien Niddm Dwi Rahayu 11 – 17   Kasus Serial Ruptur Lien Akibat Trauma Abdomen: Bagaimana Pendekatan Diagnosis dan Penatalaksanaannya Mochamad Aleq Sander 18 – 28   Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku Hidup Bersih (Phbs) dan Sehat pada Lansia Nungky Kustantya1 & Mochamad Saiful Anwar2 29 – 35   Efektifitas Pemberian Elemen Penghangat Cairan Intravena dalam Menurunkan Gejala Hipotermi Pasca Bedah Rini Minarsih 36 – 42   Tingkat Stres Kerja Perawat Dengan Perilaku Caring Perawat Riza Desima 43 – 55   Hubungan Antara Stres Kerja dengan Kinerja Perawat di Instalasi Gawat Darurat Rsud Ngudi Waluyo Kabupaten Blitar dan RSD Mardi Waluyo Kota Blitar Sri Haryuni1, Retty Ratnawatii2, Rinik Eko Kapti3 56 – 62   Dampak Home Based Exercise Training Terhadap Kapasitas Fungsional Pasien Gagal Jantung  Tony Suharsono 63 – 68   Pengetahuan Siswa Tentang Makanan yang Mengandung Zat Pengawet dan Pewarna Berbahaya di Smp Islam Kota Malang Yuni Susiyawati1 & Qusyairi2    69 – 74   Hubungan Antara Stadium Menopause Dengan Perubahan Seksual Wanita Menopause Di Posyandu Lansia Srikandi Kelurahan Sumbersari Kota Malang Yuyus Purwo Nugroho 75 – 86

Nursing
DOAJOpen Access2015

DIAGNOSA DINI PADA INFEKSI HIV TIPE 1 DENGAN MENGGUNAKAN TES DOUBLE-DETECT PROTEIN

Crisdina Suseno, Carlo Prawira Azali, Reynaldo Rahima Putra, Malinda Meinapuri

Majalah Kedokteran Andalas · Universitas Andalas

Abstrak<br />Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan gagasan tertulis ini adalah menjelaskan kajian<br />biologi molekuler, imunologi dan aspek genetik pada infeksi HIV-1 serta memaparkan<br />diagnosa yang efektif untuk mengetahui infeksi HIV-1 yang dapat diterapkan. Pengumpulan<br />data dan informasi didapatkan melalui buku dan jurnal-jurnal ilmiah hasil penelitian. Data<br />dan informasi yang diverifikasikan lebih lanjut terbatas pada bukti yang menunjukkan<br />jenis-jenis diagnosa HIV-1 dan membuat jenis diagnosa yang lebih efektif. Setelah semua<br />data yang dibutuhkan terkumpul, dilakukan pengelolaan data dengan menyusun secara<br />sistematis dan logis. Tes Double-detect Protein kemungkinan memiliki keefektifan lebih<br />tinggi dari tes yang mendeteksi antigen p24 ataupun tes yang mendeteksi antibodi.<br />Diagnosa dini pada infeksi HIV merupakan diagnosa yang dapat membantu pendeteksian<br />HIV pada fase awal infeksi hingga sebelum masuknya fase serokonversi. Pada saat inilah<br />tes Double-Detect Protein dapat dilakukan. Namun, perlu dilakukan tes NASBA sebagai follow<br />up test.<br /><br />Abstract<br />The objectives of this writing were to explain the topic of molecular biology,<br />immunology, and the genetic aspect of HIV infection type I. And also to give out a more<br />effective diagnose of HIV type I that can be applied. The data and information were<br />collected from various books and scientific journals resulted from research. Data and<br />information was verified further limited to the evidence that shows the types of diagnoses<br />of HIV-1 and created a more effective type of diagnoses. Once all the required data<br />collected, data management was done by arranging a systematic and logical manner. The<br />Protein Double-Detect test had the possibility of having a higher effectiveness compared to p24<br />antigen test or antibody detection tests. Early diagnosis of HIV infection is a diagnosis that<br />can help the detection of HIV in the early phase of infection prior to the entry phase of<br />seroconversion. At this time Double-Detect Proteins Test can be done. However, NASBA tests<br />needed as a follow-up test.<br /><br />

Medicine (General)